Cara Ngevlog untuk Pemula. Yakin Udah Tahu Semua?

Apa itu “vlog”?

Cara ngevlog? Kenali dulu apa itu vlog dulu. Vlog sebenarnya merupakan singkatan dari dua kata yaitu “Video” dan “Blog”. Jadi “vlog” itu kontennya memang seperti blog tapi dalam bentuk video.

Awal kemunculan vlog masih berbentuk sederhana, tidak jarang yang berupa video berkualitas rendah dan audio ala kadarnya. Namun dengan semakin canggihnya smartphone dan gear fotografi/videografi akhirnya kualitas vlog terus meningkat.

Bahkan brand kamera premium juga ikut melengkapi kameranya dengan kemampuan merekam video untuk vlog yang ciamik, mulai dari adanya jack mic eksternal dan juga layar yang bisa di-flip.

 

Bagaimana memulai nge-vlog?

Sebelum mulai merekam video vlog, Kamu harus mengetahui hal paling esensial seperti apa tujuan membuat vlog, footage seperti apa yang ingin ditampilkan dan memastikan perlengkapan yang dibutuhkan sudah tepat.

Penting untuk mengetahui itu lebih dulu karena sesungguhnya, vlog sama seperti membuat rekaman video yang kita tonton di TV. Apakah itu video dokumenter kehidupan alam liar, kisah tentang perjuangan hidup seseorang atau bahkan laporan ringan. Semua itu memerlukan self-shooting, membuat konsep dan menata runtutan story video.

 

Style vlog yang bagaimana?

Dimana Kamu merekam video dan dimana akan mengunggahnya akan sangat mempengaruhi jenis gear yang akan dipakai nge-vlog. Terutama pilihan untuk nge-vlog di indoor atau outdoor dan apakah Kamu masih perlu banyak mengedit setelah merekam.

Ada tiga pilihan set-up yang bisa Kamu gunakan:

  1. Personal, murah dan cheerful
  2. Syuting studio/indoor
  3. Shoot on-location

Nah, sekarang mari kita kulik keunggulan masing-masing opsi set-up.

Personal, murah dan cheerful

Biaya: tidak memerlukan tambahan pembelian yang macem-macem

Set-up ini adalah yang terhemat karena cukup menggunakan smartphone android/iOS dan tripod mobile. Sudah sih itu saja cukup jika tujuannya nge-vlog sekedar untuk diri sendiri dan beberapa orang teman, bukan untuk banyak audience.

Apalagi iPhone memiliki iMovie versi mobile untuk mengedit video, meski sekedar basic, tapi bahkan support hingga resolusi 4K di  iPhone 8 dan iPhone X. Sedangkan untuk Android bisa memakai aplikasi yang ada di Google Play. Semua bisa dilakukan di smartphone mulai dari syuting sampai mengunggahnya di internet.

 

Amateur enthusiast

Biaya: Rp 2 juta – Rp 8 jutaan

Jika Kamu ingin hasil footage terlihat lebih “serius”, ada efek bokeh dan audio yang bagus maka sebaiknya investasi lebih di kamera. Belilah kamera, jangan mengandalkan smartphone.

Sekarang sudah banyak compact camera yang punya optik mumpuni seperti seri Sony RX100. Model yang baru biasanya sudah bisa untuk merekam 4K. Namun untuk audio kadang kurang memuaskan.

Selain itu, footage dari compact camera lebih mudah diedit. Kamu bisa memakai Premier Pro dan Adobe Audition untuk merapikan audio. Bagi pengguna MacBook cukup memakai iMovie.

High quality vlogging

Biaya: Rp 8 juta – Rp 20-an juta

Jika Kamu ingin punya footage perfect dimanapun dan kapanpun maka harus siap merogoh kocek lebih dalam untuk investasi di lensa kamera. Selain itu juga perlu menambahkan mic shotgun external di kamera agar makin ciamik hasil rekaman video Kamu.

Video vlog Kamu bisa diunggah ke Facebook untuk konsumsi pribadi dan orang terdekat. Tapi jika ingin jadi vlogger lebih baik diunggah ke YouTube dan Instagram yang menjangkau lebih banyak audience dari seluruh dunia. Jangan lupa cantumkan alamat email ya, barangkali ada yang mau sponsor, hehe!

Nah, sekarang Kamu sudah bisa memutuskan ingin menjadi tipe vlogger yang mana. Setelah ini saatnya memutuskan memakai gear yang mana untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Ada gear apa saja yang recommended?

 

ASPEK TEKNIS

Apakah Kamu ingin merekam video selfie?

Jika Kamu berniat lebih banyak merekam video selfie maka lebih baik memiliki kamera dengan flip screen.

Jadi pilihlah kamera DSLR/mirrorless yang layarnya bisa diputar atau di-flip keluar untuk menghadap Kamu. Selama syuting Kamu bisa menatap ke layar untuk memonitor diri sendiri.

Apakah Kamu butuh smart autofocus?

Vlogging biasanya tidak membutuhkan kru dan dilakukan sendiri. Jadi memilih kamera yang makin smart maka makin bagus untuk mengurangi beban pekerjaan. Salah satunya memastikan kamera tetap autofokus. Tidak jarang vlogger tidak menyadari bahwa kameranya out of focus sendiri selama syuting.

Nah, smartphone biasanya punya autofocus continuous yang bagus untuk video. Sudah support tap-to-focus dan bisa tracking obyek bergerak (walupun perubahan fokus yang terlalu sering dan terlalu cepat juga agak nggak nyaman sih). Tidak hanya smartphone, kamera mungil seperti Sony RX100 juga bisa melakukannya.

Sedangkan mirrorless seperti Sony A6300 dan Canon EOS M6 juga menawarkan autofocus mid-recording yang excellent. Dengan kamera yang lensanya bisa dilepas, maka faktor-faktor yang menentukan soal kecepatan fokus adalah dua kali lipat yaitu bodi kamera dan lensa yang terpasang. Kombinasi lensa yang bagus dan kemampuan bodi kamera dalam autofocus menentukan seberapa smooth dan responsif fokus yang kamu dapatkan nanti

Sistem fokus untuk fotografi di sebagian besar DSLR sudah bagus, namun tidak selalu begitu untuk videografi. Mayoritas DSLR, apalagi yang jadul, tidak menawarkan autofocus continuous yang cepat untuk video. Lensa DSLR juga sangat berisik (kecuali pakai yang lensa STM ya), yang bakal memusingkan jika Kamu berencana memakai mic on-board di kamera.

Itu semua tidak jadi masalah jika Kamu berniat syuting di studio dan dibantu kru kameramen. Memakai DSLR dengan focus manual yang bisa merekam full HD malah hasilnya lebih ciamik dan bisa merekam lebih lama dibanding mirrorless.

 

Kualitas Audio

Walau vlog itu soal video tapi jangan lupakan aspek audio. Bagaimanapun audio visual yang sama bagusnya bisa membuat viewer kembali untuk menontonnya lagi. Urusan audio juga sama seperti video yang gampang-gampang susah, apalagi jika Kamu berniat lebih banyak syuting di outdoor.

Bisakah hanya memakai smartphone untuk mic vlog?

Smartphones sebenarnya juga ada aksesoris mic external yang bisa dibeli di pasaran, dengan kemampuannya merekam suara dari mic lav 3.5mm yang dijepitkan di baju hingga mic external lainnya dengan kualitas lebih tinggi. Itu bisa dicolokkan melalui headphone jack , USB-C atau lighting connector jika ada.

Jika Kamu pengguna Android maka lakukan double check soal kompabilitas mic dan smartphone sebelum membelinya ya.

Salah satu yang recommended adalah Sony ECM-CS3 (untuk kamera sony yang nggak ada jack 3,5mm-nya) dan Rode VideoMic Series yang bisa dijadikan mic lapel di kamera digital.

Kalau Kamu ingin vlog yang high-end maka bisa merekam suara memakai mic yang colokan-nya berjenis XLR karena bisa mentransfer sinyal suara lebih bagus. Tapi itu membutuhkan perekam external (Tascam atau Zoom adalah pilihan brand bagus) atau rekamlah memakai mic USB seperti Blue Yeti ke komputer kalian dan sinkronisasikan audionya saat editing.

Pakai tripod atau tanpa tripod?

Ini juga sangat penting untuk dipertimbangkan. Apakah Kamu berniat untuk nge-vlog tipe still frame yaitu duduk manis di depan kamera atau bergerak bebas?

Jika Kamu berniat akan memegang kamera terus-terusan, entah smartphone atau kamera digital, maka pastikan bodi kamera atau lensanya memiliki optical image stabilisation (OIS). Gunanya agar tidak terlalu berguncang dan rekamannya stabil. Akan lebih bagus lagi jika Kamu membeli handheld stabilizer seperti DJI Osmo Mobile 2 atau Zhiyun Crane V2 atau DJI Ronin-S biar makin mulus rekamannya.

Nah, buat Kamu yang bakal merekam vlog pakai tripod maka tidak membutuhkan adanya OIS di kamera atau lensa. Dengan tripod biasa, mini maupun gorillapod sudah cukup menghasilkan rekaman yang stabil, namun agak susah kalau mau ngerekam sambal jalan.

 

Live streaming: Output HDMI yang clean

Selain smartphone, Kamu tentunya bisa nge-vlog dan live menggunakan kamera DSLR/mirrorless. Tapi itu membutuhkan colokan HDMI jika ingin memindahkan footage ke PC untuk di encoded menggunakan software.

Jadi urusan colokan satu ini juga penting.

 

Weather sealing untuk mengatasi berbagai kondisi cuaca

Jangan lupakan cuaca jika Kamu berencana lebih banyak syuting vlog di luar ruangan, apalagi di underwater. Pastikan gear Kamu sudah dilengkapi pelindung weatherproof dan waterproof.

Untuk kamera DSLR bisa diberi pelindung yang juga mulai banyak dijual di pasaran.

GoPro direkomendasikan untuk mengatasi masalah ini karena memiliki housing waterproof. Hasil footage-nya pun bagus karena lensanya ultra wide. Namun kualitas audio GoPro tidak bagus. Tapi jika Kamu menggunakan footage dan audio hasil perekaman, entah backing track atau voice over, secara terpisah maka hasilnya akan lebih baik.

Bagaimana jika hanya punya smartphone?

Sebenarnya tidak perlu anti banget-banget jika bermodalkan smartphone karena sudah banyak yang water resistant untuk rilisan belakangan ini. Mulai dari iPhone X hingga Android seperti Huawei Mate 10 Pro dan Samsung Galaxy Note 8.

 

Resolusi video: 4K, 60fps dan yang recommended

Kamu hampir sampai pada potongan terakhir dari big puzzle “apa saja yang harus dimiliki untuk jadi vlogger”. Kurang apa lagi?

RESOLUSI VIDEO

Ini adalah era socmed dan smart TV jadi sangat penting untuk memutuskan resolusi output yang ingin Kamu hasilkan. Sebaiknya sih resolusi 4K dan 60/120 fps jadi juga bagus disetel di TV layar besar dan monitor PC. Enaknya lagi, dengan resolusi 4K Kamu bebas memotong (crop) bagian-bagian video tanpa kehilangan detil atau ketajaman. Itu tidak bisa dilakukan resolusi 1080 (full HD). Namun resolusi 4K memakan banyak memori ya, baik memori di kamera maupun memori di PC waktu editing, PC-nya belum tentu kuat buat edit wkwk.

Frame rate yang cepat juga memudahkan, terutama untuk action. Standar perekaman kisaran 30fps, 60 atau 120fps. Dan kalau merekam menggunakan 60fps ke atas, kamu sudah bisa bikin video slow-motion.

Oh iya, selain screen yang bisa diputar, lensa wide-angle juga akan membantu bikin video selfie untuk tetap in-frame.Lensa yang recommended untuk nge-vlong adalah di focal length 15mm.

 

Kamera apa yang sebaiknya dipilih calon vlogger?

1) Smartphone

Jika Kamu ingin membeli smartphone dengan tujuan untuk nge-vlog maka pertimbangkan kemampuan kameranya, apalagi kamera depannya kalau bisa. Pilih yang berlabel “selfie camera/phone” apalagi kalau juga dilengkapi stabilisator (OIS). Cek juga kemampuan audio yang sebaiknya sudah dilengkapi teknologi OZO.

Rekomendasi: iPhone X, iPhone 8/8Plus, Samsung Galaxy Note 8/S8, Google Pixel 2/2XL, LG V30 and the Huawei Mate 10 Pro.

(Semua itu sudah dilengkapi OIS, bisa merekam 4K dan weatherproof)

Jika merasa kurang steady alias masih terasa shaking di hasil rekaman video. Sebaiknya Kamu beli handheld gimbal yang bisa dipasangi smartphone. Salah satu yang direkomendasikan adalah DJI Osmo Mobile 2.

Kekurangan: Meski smartphone high-end terbilang sudah mumpuni tapi biasanya tetap tidak dapat mengatasi kondisi low light. Sebagus-bagusnya tetap tidak mengalahkan performa kamera sungguhan untuk low light.

 

2) Compact camera

Kenapa lebih baik investasi membeli kamera compact jika berniat jadi vlogger?

Karena, kamera digital menawarkan optik, zoom dan sensor yang jauh lebih baik dibanding smartphone. Lebih bandel mengatasi berbagai macam kondisi. Rekomendasi:

Canon PowerShot G7 X Mark II untuk rekaman video full HD dan sudah ada internal stabilizernya. Lensa zoom-nya wide dengan f/1.8-2.8 3x dan memiliki banyak opsi manual.

Sony RX100 Mark IV juga mirip G7X tapi mampu untuk video 4K. Ciamik untuk kondisi low light tapi lensa bawaan mungkin agak inferior dari Canon.

Kekurangan: compact camera rata-rata tidak punya port audio jadi suara hanya bisa direkam menggunakan mic on-board. Tidak masalah untuk indoor, apalagi studio yang tenang, tapi akan jadi masalah besar di outdoor dengan kondisi lingkungan tidak menentu.

3) Kamera Mirrorless dan DSLR

Jika dulu kamera mirrorles kualitasnya di bawah DSLR namun sekarang tidak lagi. Banyak videografer profesional memilih mirrorless lho untuk hasil yang ciamik. Ada apa saja yang recommended?

CANON

Bagi Kamu yang belum siap merogoh kocek membeli kamera untuk video 4K bisa melabuhkan diri ke kamera Canon yang support full HD dulu. Canon EOS 200D bisa jadi pilihan smart, apalagi sudah dilengkapi jack mic untuk kualitas audio yang lebih baik.

Jika EOS 200D dirasa terlalu bulky dan tidak butuh viewfinder, maka Canon EOS M6 bisa jadi alternatif. EOS M6 memiliki autofocus terbaik di kelasnya dan mudah dibawa untuk ukuran kamera APS-C.

Untuk yang mencari output resolusi 4K bisa memilih Canon EOS M50, apalagi dilengkapi LCD screen flip-out. Begitupun EOS 6D Mark II yang full frame DSLR dengan layar flip-out pantas dipertimbangkan jika budget mencukupi. Video selfie Kamu dijamin ciamik dengan efek bokeh dan jagoan di low light.

 

PANASONIC

Panasonic memiliki perbedaan tajam dengan kamera Canon, terutama ukuran sensor. Namun sekarang kamera Panasonic tidak lagi tertinggal karena sudah meningkatkan kualitas sensornya yang dimulai dari kamera mungil seperti pada Lumix GX800. Untuk yang kantong mepet bisa memilih Lumix G7 yang sudah 4K.

Panasonic juga punya koleksi lensa yang variatif untuk kamera Micro Four Thirds milik mereka.

Tapi jika Kamu pertama membeli kamera video dan budget mencukupi, mungkin bisa sekalian Panasonic GH5 yang memiliki fitur lebih canggih, misalnya timecoding dan output HDMI untuk live streaming serta masih ada jack mikrofon dan screen putar.

 

Sony dan Nikon

Sony juga merilis kamera yang didesain kecil sehingga cocok untuk nge-vlog. Tapi kebanyakan kamera Sony bikin galau karena screen flip-out dan jack mikrofon jarang satu paket.

Tapi di luar itu, kamera mirrorless APS-C dan full frame dari Sony justru menawarkan performa terbaik untuk kondisi low light. Kualitas video yang udah 4K juga ciamik untuk nge-vlog.

Untuk yang concern di video bisa memilih Sony A7S II yang sudah level professional. Kalau untuk mirrorlessnya bisa ambil A6400 yang sudah dilengkapi flip screen.

Sementara untuk Nikon,  D7500 misalnya, dia sudah yang terbaik di kelasnya untuk fotografi dan video 4K yang luar biasa. Tapi konon katanya, autofocus, auto continuous focus dan screen tidak bisa 180 derajat sudah bikin vlogger mundur.

Lensa dan Aksesoris

Apapun bodi kamera pilihan Kamu, jangan lupakan perkara lensa. Bagi vlogger yang memilih duduk manis bicara ke kamera sebaiknya memilih lensa wide angle sekitar 15-22mm. Bisa juga pakai prime lens.

Sebenarnya punya beberapa lensa berbeda akan sangat menunjang. Milikilah lensa dengan aperture besar untuk mengatasi kondisi low light dan beberapa lensa dengan focal length ultrawide 11mm hingga lensa zoom 100mm.

Selain lensa juga sangat disarankan untuk memiliki gimbal demi footage yang mulus, apalagi buat Kamu yang berniat nge-vlog sambil jalan-jalan.

Untuk smartphone bisa memakai DJI Osmo Mobile 2 sedangkan kamera mirrorless/DSLR memakai Zhiyun Crane 2.

Sedangkan untuk tripod bisa menyiapkan: satu mini tripod, satu Gorillapod dan satu full-sized tripod jadi Kamu tidak bakal kelabakan di berbagai jenis lokasi.

 

Bagaimana?

Sudah mendapatkan pencerahan?

Pastinya Kamu harus tahu lebih dulu ingin membuat video vlog yang seperti apa untuk memutuskan peralatan yang akan dipakai. Jangan dibalik atau Kamu akan berakhir tidak maksimal.

Kesuksesan menjadi vlogger tidak semata-semata soal aesthetic dengan effect yang wow, Kamu juga harus bisa membuat konten yang menarik. Menarik tidak berarti harus selalu mahal/big budget. Banyak-banyaklah menonton vlog yang populer untuk mendapatkan inspirasi. Jangan lupa banyak-banyak berlatih juga.

Selamat mencoba!

3 thoughts on “Cara Ngevlog untuk Pemula. Yakin Udah Tahu Semua?”

  1. Wah baru, tau ternyata mau ngevlog nggak ujuk-ujuk record video trus omong-omong sendiri yakk. :D
    ternyata ada persiapan dulu juga yaa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *