Bagaimana Cara Memilih Lensa untuk Food Photography? (Part 1)

food photography toko kamera online plazakamera surabaya dan jakarta

Food Photography sudah menjadi tren untuk saat ini. Apa Anda termasuk yang suka dengan Food Photography? Suka memotret makanan pakai smartphone buat diposting di social media? Lalu sekarang Anda ingin naik kelas dengan memakai mirrorless/DSLR untuk memotret kuliner secara lebih profesional?

Nah, pasti sekarang jadi kepikiran harus pakai lensa yang bagaimana nih biar hasil foto makanan jadi kece? Karena memang sih, food photography atau fotografi kuliner sangat mengandalkan lensa sedangkan bodinya tidak masalah. Lensa yang salah maka hasilnya bisa kelihatan aneh.

Tidak selalu harus lensa mahal kok, ada beberapa jenis lensa dengan variasi harga beragam yang bagus untuk food photography. Bagaimana cara memilih lensa food photography?

 

Bagaimana cara milih lensa untuk food photography?

Pertama yang harus diingat adalah jangan terpaku pada satu merk atau membeli lensa/kamera hanya karena semua orang membelinya.

Ingatlah, di luar sana banyak sekali jenis lensa dan semua punya fungsinya masing-masing.

Tips pertama untuk memilih lensa yang cocok adalah ketahui dulu apa yang ingin Anda capai di foto Anda nanti. Dari situ Anda bisa mengira-ngira lensa apa yang dibutuhkan.

Hmmm, jadi jangan pakai lensa wide jika Anda ingin mendapatkan foto kue yang diambil dari depan, secara close-up. Karena bisa-bisa Anda malah dapat hasil foto kue yang melengkung dan nggak sesuai proporsi aslinya.

 

Focal Length Adalah Kunci Utama untuk Food Photography

Focal length bisa memberikan perbedaan sangat besar pada hasil pemotretan makanan Anda loh. Karena itu sebaiknya pahamilah dulu apa itu focal length.

Focal length diukur dalam mm. Ini adalah jarak dari sensor kamera ke “titik konvergensi” (titik di mana sinar cahaya bersilangan di lensa Anda untuk membentuk gambar tajam pada sensor). Semakin tinggi  angka mm, maka gambar akan semakin diperbesar (zoom in). Simpelnya, lensa 100mm hasilnya lebih nge-zoom dibanding lensa 50mm.

 

Crop Frame vs Full Frame – Apa Itu dan Apa Artinya

Untuk benar-benar memahami apa efek focal length lensa terhadap foto, maka harus dipahami dulu perbedaan antara kamera full frame dan crop frame.

Sensor pada kamera adalah part utama yang akan menangkap informasi untuk kemudian diolah menjadi foto. Ini menggantikan fungsi film dalam kamera analog dulu, sehingga Anda juga bisa menganggapnya sebagai film pada DSLR.

Nah, ukuran standar sensor sama dengan film, yaitu 35mm, dan kamera yang memiliki sensor ukuran segitu disebut sebagai kamera “full frame”. Sensor yang lebih kecil dari itu disebut “crop frame” (ini termasuk APS-C, Micro 4/3, dll), sedangkan yang lebih besar adalah “medium format” atau “format sensor besar”.

Jadi apa efek ukuran sensor pada kamera?

Mari kita pahami dengan memakai contoh sebuah foto sepeda yang cantik ini:

Jika Anda berdiri persis di depan sepeda, maka seluruhnya yang ada di foto di atas adalah hasil akhir menggunakan kamera full frame. Sedangkan yang ada di dalam kotak merah adalah foto dengan lensa yang sama tapi dipasangkan di kameranya jenis “crop frame”.

Lalu hubungannya lensa dengan ini? Hubungannya focal length dengan ini?

Focal length juga mempengaruhi seberapa lebar area yang masuk ke sensor. Jadi kalau Anda menggunakan kamera crop frame dan ingin mendapatkan hasil seluas kamera full frame, gunakan lensa yang focal length-nya lebih pendek, hasilnya bisa selebar itu juga. Namun hal ini ada kelemahanya, akan kita bahas setelah ini lewat sebuah percobaan.

Catatan penting:

Beberapa lensa didesain spesifik untuk berfungsi baik hanya pada sensor crop frame, yang artinya jika Anda nantinya meng-upgrade bodi kamera ke full frame maka Anda tidak dapat menggunakan lensa tadi secara efektif di kamera baru.

Efek dari focal length yang dipilih pada hasil memotret makanan

Focal Length dan Efek Zoom

Coba perhatikan efek dari focal length lensa ketika kamera ditempatkan di posisi dan jarak yang sama. Satu-satunya hal yang akan kita ubah adalah focal length pada lensa. Ini foto setting pemotretannya:

Kemudian inilah yang dilihat dari kamera melalui tiap focal length yang berbeda:

Bedanya cukup dramatis kan?

Anda dapat melihat dengan jelas efek dari focal length yang lebih panjang. Lensa 28mm menunjukkan lebih banyak area sekitarnya sedangkan lensa 100mm lebih nge-zoom ke rotinya.

Teorinya, Anda bisa nge-crop foto dari lensa 28mm untuk mendapatkan foto komposisi yang sama dengan hasil dari lensa 50mm dan 100mm.

Tapi, itu bukan ide yang bagus.

Meski semua foto memiliki jumlah piksel yang sama, tapi ukuran roti di foto itu tidak sama lho di setiap foto. Jadi pada foto 100mm, bagian roti sendiri memiliki jumlah piksel lebih banyak daripada yang dijepret pakai lensa 28mm. Jadinya kalau Anda nge-crop foto dari lensa 28mm menjadikannya ke ukuran yang sama seperti hasil dari lensa 100mm, Anda tidak bisa mendapat detil bagian roti sebagus di hasil lensa 100mm. Malah kualitas fotonya bakal lebih jelek.

Nah, mungkin sekarang Anda jadi kepikiran “kalau gitu, kenapa kita nggak beli lensa 28mm saja dan memotret dengan cara mendekati roti biar lebih nge-zoom?”

Nah, ini jawabannya…

 

Focal Length dan Perspektif

Contoh selanjutnya, daripada memakai tripod dengan posisi dan jarak yang sama seperti sebelumnya, kali ini kamera akan dipindahkan agak mundur (disesuaikan dengan lensa) supaya bisa membuat roti berukuran sama meskipun difoto dengan 3 lensa berbeda.

Untuk membuat roti tetap terlihat berukuran sama, ini artinya lensa 28mm akan sangat dekat (very close up) ke roti dan lensa 100mm akan lebih jauh posisinya.

Inilah hasilnya dan lihatlah betapa berbedanya (dimananya, hayo?).

Kunci dari semua ini adalah bagaimana perspektif berubah dari hasil masing-masing focal length. Anda bisa melihat bahwa kita akan mendapatkan ruang pandang yang lebih lebar menggunakan lensa focal length pendek. Anda dapat melihatnya dengan jelas dari ‘talenannya’.

Pada foto hasil lensa 28mm, terlihat talenannya jadi lebih panjang depannya, atau rotinya jadi kelihatan lebih jauh ke belakang. Padahal, tidak ada settingan kamera yang diubah, hanya lensanya saja yang focal length-nya lebih pendek.

Ketika menggunakan shot seperti ini, lensa wide angle memiliki efek seolah objek ditarik ke bagian tepian foto sehingga membuat garis perspektif jadi lebih dramatis dari aslinya. Ini tidak bagus untuk foto kuliner karena hasilnya akan aneh,tidak sesuai proporsi aslinya.

Perubahan paling kentara adalah seberapa banyak background yang terlihat

Lensa 100mm menampilkan efek “crop” lebih banyak. Focal length panjang pada lensa sering disebut “lensa ketat” karena faktor ini. Itu sebabnya juga kenapa pisaunya kelihatan seperti geser posisi padahal sebenarnya tidak.

Ingat juga bahwa tidak ada yang namanya focal length “lebih bagus daripada lainnya”. Setiap focal length punya fungsinya masing-masing untuk jenis fotografi berbeda.

Jadi semakin Anda memahami style sendiri maka bakal makin mudah memutuskan jenis lensa mana yang harus dibeli. Yuk terus memotret!

Source: That’s Sage

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *