Bagaimana Cara Memilih Lensa untuk Food Photography [Part 2]

Melanjutkan artikel sebelumnya yang membahas soal bagaimana cara memilih lensa yang bagus untuk fotografi kuliner, sekarang saatnya mengulik lebih dalam soal lensa.

Yup! Karena lensa itu bisa dibilang yang paling penting dalam motret makanan lho.

Sekarang kita bakal membahas apa yang harus diketahui  dalam menilai tiap lensa sebelum memutuskan membelinya.

Namun harap diingat lagi nih, Anda harus sudah punya bayangan ingin membuat foto kuliner yang seperti apa baru kemudian mencari lensa yang cocok. Biar tidak panik saat melihat banyaknya pilihan lensa lalu akhirnya salah beli.

 

Apa yang harus saya cari dalam memutuskan lensa food photography mana yang cocok?

Seperti yang sudah dibahas di artikel sebelumnya, kunci utama pemilihan lensa adalah focal length. Anda harus benar-benar mengerti bagaimana pengaruh focal length lensa yang Anda gunakan nantinya.

Tapi terlepas dari seberapa pentingnya focal length, ada fitur-fitur lensa lain yang harus Anda perhatikan agar tidak salah pilih. Fitur-fitur apa sajakah itu?

Fitur Utama Lensa

Focal Length

Penjelasan lengkap soal focal length bisa disimak di artikel sebelumnya di sini.

 

Lensa Prime (Atau Lensa Fix) vs Lensa Zoom

Lensa prime memiliki focal length yang tidak bisa diubah, jadi jika Anda membeli ukuran 50mm lens, maka tidak bisa dipanjang pendekkan.

Sedangkan lensa zoom memiliki focal length yang bisa diubah, misalnya ukuran 18-55mm, maka lensanya bisa dipanjang pendekkan dalam range ukuran tersebut.

Nah, untuk food photography, biasanya lensa prime mengungguli lensa zoom dan inilah sebabnya:

Aperture: lensa prime biasanya memiliki aperture lebih lebar (dengan angka F-stop yang lebih kecil) sehingga memungkinkan mendapatkan cakupan area bokeh/blur yang lebih luas plus lebih fleksibel karena bisa menangkap lebih banyak cahaya.

Sharpness: Lensa prime biasanya lebih tajam hasilnya dibanding lensa zoom. Itu karena lensa prime struktur jerohannya lebih simpel sehingga bisa fokus banget ke kualitas ketajaman.

Menjepret foto yang tajam akan meningkatkan “nilai” fotografi makanan Anda dari yang sebenarnya biasa saja jadi terlihat excellent lho.

Jadi jika Anda mencari lensa prime dan lensa zoom yang harganya hampir sama, lebih baik sih membeli lensa prime saja.

Tapi, jika Anda memerlukan lebih dari satu focal length untuk keperluan fotografi makanan yang bervariasi dengan budget terbatas juga tidak masalah kok.  Karena sebenarnya kualitas lensa zoom untuk memotret makanan juga tidak buruk. Bisa jadi malah lebih cocok untuk gaya memotret Anda yang mungkin serbabisa dan ingin memotret beragam situasi.

 

Aperture Maksimal Lensa

Ketika kita berbicara soal seberapa “cepat” sebuah lensa maka itu artinya tentang seberapa lebar bukaan aperture (soalnya makin lebar bukaan aperture makin aman kalau mau main shutter speed cepat). Kemudian juga makin kecil angka F-stop maka bokehnya semakin kelihatan/ngeblur banget.

Nah, setiap lensa punya aperture maksimal yang ditandai dengan simbol “f/x”. Jadi misal lensa Anda tertulis “50mm f/2.2” maka artinya aperture maksimalnya adalah f/2.2.

Dalam fotografi makanan, normalnya dipotret dalam range f/2 – f/5.6 tapi kadang bisa pakai F-stop lebih besar angkanya jika butuh semua yang ada di frame terlihat tajam. Sangat jarang memakai f/1.4 (bukaan terbesar pada lensa 35mm).

Kebanyakan lensa zoom memiliki aperture maksimal yang lebih kecil (jadi angka F-stop paling kecilnya pun masih lebih besar daripada lensa prime), apalagi jika diperpanjang sampai focal length maksimal. Ini akan membuat Anda kesulitan di beberapa sikon jika hanya pakai lensa zoom.

 

Lensa Makro atau Mikro?

Lensa makro memiliki faktor pembesaran 1,0x atau 1: 1, yang artinya sangat memungkinkan untuk mereproduksi foto sesuai dengan ukuran asli objeknya. Anda bisa dekat sekali dengan obyek foto dan hasilnya tetap tajam.

Sebenarnya, kebanyakan food photography tidak terlalu membutuhkan lensa makro jadi Anda tidak perlu terburu-buru membelinya.

Kualitas Optik

Kualitas optik sangat tergantung pada susunan khusus tiap-tiap lensa. Ini biasanya tidak disebutkan di deskripsi produk lensa tapi bisa diketahui dari hasil penyelidikan sendiri.

Lensa dengan kualitas optik lebih baik biasanya bisa menghasilkan foto lebih tajam dengan minim distorsi maupun chromatic aberration. Rajin-rajin tanya dan browsing ya…

Food photography dengan Beragam Lensa

Sekarang sudah lebih memahami perbedaan lensa untuk memotret makanan belum?

Jika belum yakin dan belum mendapat jawabnya, bisa simak penjelasan yang lebih detil ini:

 

Lensa Wide Angle (10mm – 50mm)

Bagus untuk memotret top down (dari atas langsung ke bawah) yang bisa memasukkan banyak obyek ke dalam frame. Biasanya disebut juga dengan istilah flat lay photography.

Kekurangan:

Lensa wide angle memiliki masalah yaitu distorsi perspektif ketika terlalu dekat dengan obyek foto. Pada dasarnya lensa ini membuat area di belakang kelihatan lebih kecil dari aslinya, jadi lensa ini tidak bagus untuk pengambilan foto dari depan ataupun foto close up makanan.

Makanan ini dipotret menggunakan lensa zoom 18-135mm di focal length 38mm. Jadi bisa dianggap sedang beroperasi sebagai lensa “wide angle”

Lensa 50mm

Mungkin Anda sering mendengar lensa 50mm disebut “fifty nifty”? Itu karena focal length 50mm membuat semua obyek bagus saat dipotret, serbabisa, hampir cocok untuk segala situasi, begitupun di food photography.

Bagus untuk:

Pemotretan lurus dari depan dan untuk angle-angle dimana Anda ingin menangkap seluruh image dengan masih menyisakan negative space (area kosong) di sekitar makanan. Bagus juga untuk flat-lay dan top down dengan setting makanan yang sudah ditata di meja makan, supaya cukup masuk ke dalam frame.

Kekurangan:

Meski bagus untuk semuanya, lensa 50mm tetap memiliki beberapa distorsi perspektif yang malah membuat garis perspektifnya jadi terlalu dramatis. Begitupun saat Anda memotret secara top down, Anda akan kesulitan untuk mengatur ketinggian kamera agar semuanya bisa masuk frame (karena kurang wide).

Lensa 50mm sangat worth it buat yang baru ingin mulai karena selain cocok untuk segala situasi, hasilnya pun sangat tajam dengan aperture maksimal jadi bokehnya cantik sekali.

Lensa Long-Focus atau Telephoto (60mm dan di atasnya)

Bagus untuk:

Pemotretan angle 25°-75° dan lurus dari depan. Ini akan membuat subyek makanan jadi kelihatan menonojol dan tetap tampak realistis. Cukup mengurangi masalah distorsi perspektif.

Kekurangan:

Lensa ini tidak bagus digunakan untuk tipe pemotretan top down karena Anda pasti tidak bisa mencapai ketinggian yang pas agar semuanya bisa masuk ke dalam frame.

Semakin tinggi angka focal length lensa, Anda harus semakin jauh dari obyek foto untuk bisa merangkum semuanya di dalam frame. Jadi mungkin lensa 120mm terlihat keren tapi sebenarnya kurang cocok saat digunakan di ruangan yang space-nya terbatas.

Lensa tele, satu lensa andalan untuk semua jenis fotografi kuliner, cakep untuk tipe foto angle 25°-75° dan lurus dari depan.

Memutuskan Lensa yang Paling Cocok untuk Anda

Nah, sekarang Anda sudah mengantongi apa saja kriteria lensa yang terbaik untuk food photography. Jangan lupakan hal ini:

  • Putuskan style food photography yang anda inginkan.
  • Coba temukan berapa focal length yang Anda butuhkan untuk memotret makanan (jangan lupa apakah kamera Anda tipe crop (sensor APS-C, Micro 4/3 atau sudah sendor Full Frame)
  • Pikirkan lagi apakah Anda membutuhkan fitur lainnya dari lensa tersebut, misalnya aperture maksimalnya berapa dan space ruangan yang Anda pakai nantinya.
  • Jangan memaksakan diri membeli melebihi budget. Lebih baik Anda mencari referensi lainnya hingga ketemu yang pas di kantong.

Selamat memilih lensa terbaikmu dan teruslah memotret!

Sumber: That’s Sage

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *