SHOT SIZE: Memanipulasi Apa yang Dilihat Audience

Yang paling membedakan video, film, dengan aksi panggung seperti drama, ludruk, teaterikal, adalah bagaimana seorang videografer memanipulasi apa yang dilihat audience-nya.

Dalam aksi panggung, audience bisa melihat seluruh area panggung dan siapapun yang ada di sana. Namun kalau Anda nonton bioskop (atau film di laptop/hp), Anda hanya akan melihat apa yang videografer inginkan untuk Anda lihat.

Di beberapa scene, Anda akan melihat sebuah area pegunungan yang luas, di scene lain, Anda akan melihat secara detil bagaimana ekspresi sedih seseorang yang baru saja mendapati keluarganya meninggal. Perbedaan sudut pandang, jarak, dan subjek yang ada di dalam frame inilah yang mengatur jalannya cerita visual di dalam pikiran kita. Dan ini yang kita sebut dengan SHOT SIZE..

 

ESTABLISHING SHOT

Ini adalah shot yang hampir selalu ada di awal sebuah rentetan scene. Fungsi shot jenis ini adalah untuk mengenalkan lokasi dimana scene-scene berikutnya akan terjadi. Paling sering menggunakan aerial shot sih. Berikut contoh-contohnya:

EXTREME LONG SHOT

Extreme long shot adalah shot dimana kamera akan diposisikan sejauh-jauhnya dari subjek, biasanya menggunakan lensa wide, yang tujuannya membuat subjek yang ada di dalam frame tampak kecil ketika dibandingkan dengan lokasi di sekelilingnya.

Shot jenis ini biasanya digunakan untuk menyampaikan kesan bahwa subjek sedang merasa sendiri, jauh, atau sedang menjadi sesuatu yang ‘non familiar’. Shot ini juga bisa memberikan kesan bahwa subjek sedang tertekan oleh lokasi yang ada di dalam frame.

Extreme long shot sering kali diambil dari sudut tinggi (high angle) untuk memberikan kesan bahwa subjek sedang inferior. Hal yang sama ketika Anda menggunakan high angle shot.

 

LONG SHOT/WIDE SHOT

Bicara long shot, sebenarnya konsepnya sama dengan extreme long shot di atas, hanya saja kali ini ‘lebih dekat’. Jika subjek utama Anda adalah manusia, maka subjek itu akan terlihat dari ujung atas hingga ujung bawah tubuhnya, namun tidak akan memenuhi seluruh frame Anda.

Dengan kata lain, harus ada ruang di atas dan di bawah subjek Anda. Gunakan long shot untuk menyampaikan interaksi bahwa subjek Anda adalah bagian/sedang berinteraksi dengan area yang lebih luas di sekelilingnya. Berbeda dengan extreme long shot, kali ini subjek tidak terlalu kalah dengan area sekelilingnya.

Perhatikan scene berikut dari film Interstellar:

Kru pesawat luar angkasa itu mendarat di planet misterius, kemudian sebuah ombak besar muncul tiba-tiba. Itu yang ingin disampaikan.

Sutradara Christopher Nolan dan kameramen Hoyte van Hoytema memilih menggunakan long shot menyampaikan pesan tersebut.

Long shot ini menyiratkan bahwa akan ada bahaya besar datang (ombak besar tadi). Namun berkat sutradara tidak menggunakan extreme long shot yang membuat subjek terlihat kecil, audience mendapatkan kesan bahwa subjek tidak begitu terintimidasi oleh oleh ombak tadi.

 

FULL SHOT

Shot jenis ini membuat subjek Anda memenuhi frame, namun masih menyisakan ruang kosong untuk background masuk ke dalam komposisi Anda.  Mirip dengan long shot di atas, namun jarak antara kamera dengan subjek jauh lebih dekat kali ini. Karena itu full shot seringkali menggunakan lensa wide.

Coba perhatikan cuplikan film The Master karya Thomas Anderson.

Pada cuplikan tersebut, komposisi yang digunakan adalah full shot dengan menggunakan 2 subjek, yang sama-sama berdiri di dalam sel penjara masing-masing.

Dengan menggunakan full shot, Anderson mencoba menyampaikan bahwa kedua subjek mengalami hal yang sama, sekaligus menunjukkan bahwa mereka memiliki reaksi yang berbeda soal ‘dipenjara’.

Melalui full shot Anda akan mulai merasakan bagaimana mental subjek (dengan melihat gestur menyeluruh dari atas hingga bawah) berinteraksi dengan apa yang terjadi di sekitarnya.

 

MEDIUM LONG SHOT

Pada medium long shot, subjek diposisikan mulai dari area lutut ke atas. Hal inilah yang membedakan antara medium shot dan full shot. Pada shot jenis ini, audience secara tidak sadar akan dipaksa mendengarkan/memahami apa yang disampaikan subjek.

Ketika medium long shot dipadukan dengan low-angle, Anda juga bisa memberi kesan antagonis yang bagus banget.

 

MEDIUM SHOT

Medium shot akan menunjukkan subjek secara lebih detil. Sebenarnya mirip dengan medium long shot di atas, namun kali ini adalah area pinggang ke atas. Jadi proporsi yang dilihat audience di sini sudah mulai lebih banyak subjek-nya daripada background-nya.

Scene berikut dalam film Fight Club, memanfaatkan medium shot dalam menyampaikan ceritanya. Medium shot di sini digunakan untuk memberikan kesan adanya jarak antara subjek yang sedang/akan berkelahi. Selain itu, juga menggunakan lensa yang cukup lebar untuk memasukkan orang-prang di sekeliling subjek masuk frame untuk memberikan atmosfer hidup. Pilihan menggunakan over the shoulder shot (dimana audience seolah-olah melihat dari belakang bahu seseorang) juga menyiratkan pesan bahwa mereka sedang bertengkar, tidak hanya secara fisik tapi juga secara mental.

Pilihan yang tepat untuk merekam adegan berkelahi.

 

MEDIUM CLOSE-UP

Nah untuk medium close up justru akan memposisikan subjek Anda masuk frame mulai area dada ke atas. Shot macam ini ditujukan untuk menunjukkan ekspresi/wajah subjek, namun masih menjaga seolah masih ada jarak dengan subjek dan mereka masih terpengaruh oleh orang sekelilingnya dan juga adegan sebelumnya.

 

CLOSE UP

Kapan harus pakai close up? Gunakan shot jenis ini ketika Anda ingin menggambarkan emosi dan reaksi subjek lewat ekspresi mereka. Close up shot seperti ini mengisi kebanyakan frame Anda dengan ‘bagian’ dari subjek Anda. Jika subjek-nya adalah manusia, maka close-up seringkali diarahkan ke wajah.

Cuplikan scene emosional dari Blade Runner berikut memiliki banyak close-up shot:

Dalam adegan di atas, salah satu karakter berusaha menceritakan alasan kenapa dia ingin hidup lebih lama, diiringi dengan air mata dan hujan. Ekspresi wajah dan gesturnya di adegan ini menjadi sangat krusial untuk menyampaikan pesan tadi.

Close up cocok untuk menangkap momen monolog seperti ini. Shot jenis ini akan membawa audience masuk dan merasakan apa yang dirasakan subjek dengan melihat ekspresinya secara detail.

 

EXTREME CLOSE UP

Jika tadi ada extreme long shot, maka juga ada extreme close up. Nah di ectreme close up, seluruh frame akan diisi oleh subjek Anda. Seringkali yang ditunjukkan di sini adalah mata, mulut/bibir, atau kadang juga pelatuknya pistol (iya, kan?). Di jenis shot ini, detail-detail kecil yang mempengaruhi cerita akan di highlight habis-habisan dan menjadi focal point cerita untuk lanjut ke adegan-adegan berikutnya.

Salah satu adegan yang menggunakan close up shot dan bisa dibilang sangat memukau, tidak hanya karena scene-nya yang memang menjadi klimaks film itu sendiri, tapi juga karena dieksekusi dengan luar biasa adalah: Black Swan. Seorang balerina yang harus memeranan penari angsa putih dan berkarakter lugu, tapi juga harus berubah menjadi angsa hitam di akhir cerita.

Pada adegan ini, kita bisa melihat bagaimana perubahan Nina (si balerina). Sutradara menggunakan extreme close up untuk menunjukkan bagaiman bulu-bulu hitam keluar dari punggung Nina, secara detail.

 

SHOT SIZE = FONDASI

Bisa dibilang menentukan shot size adalah tahap paling awal dalam membuat storyboard, atau dalam menentukan adegan apa yang ingin kita rekam. Kita memiliki senjata mulai dari extreme long shot hingga extreme close up. Tentukan shot size yang paling sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan.

Apakah sampai di sini saja?

Nggak, karena setelah menentukan shot size Anda harus menentukan komposisi/framing yang mampu menarik perhatian audience. Kemudian juga mulai mempertimbangkan movement atau pergerakan kamera juga, hehe. Banyak ya?

Nggak apa-apa, pelan-pelan kita bahas bareng gimana caranya jadi better videographer ya. Yuk!

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *