Mengenal Aperture Kamera Pada DSLR dan Mirrorless

Aperture atau Diafragma, atau Bukaan. Apa sih itu?

Bersama dengan ISO dan Shutter Speed, Aperture adalah salah satu dari 3 elemen fundamental segitiga eksposur. Lalu, apa yang jadi tugas dari aperture ini?

Tugas pertama aperture bisa diibaratkan sebagai jendela. Jendela kamar Anda bisa mengontrol seberapa banyak cahaya yang masuk ke kamar Anda waktu pagi hari, iya kan? Semakin lebar Anda membuka jendela Anda,maka semakin banyak cahaya yang masuk.  Dan mengingat itu adalah jendela kamar Anda sendiri, maka Anda sendiri jugalah yang menentukan seberapa lebar jendela itu terbuka. Hal ini sama dengan aperture.

Aperture mengontrol seberapa banyak cahaya yang sampai ke sensor kamera dengen ‘membuka-menutup’ katup berisikan pisau-pisau (istilahnya blade) yang ada di bagian depan lensa.

Ngapain kok banyak tidaknya cahaya yang ke sensor perlu diatur? Hmmm

 

Menyeimbangkan Eksposur

Untuk mengerti ini, Anda perlu tahu dulu hubungan aperture dengan shutter speed. Shutter speed menentukan seberapa cepat kamera bisa ‘menjepret’. Semakin cepat ‘jepretannya’ (shutter speed 1/30 detik lebih cepat dari 1/15 detik, dan 1/15 detik jelas lebih cepat dari 1 detik), maka semakin mampu menangkap momen benda bergerak tanpa blur.  Namun ada efek sampingnya, semakin cepat shutter speed maka semakin sedikit cahaya yang masuk, dan foto jadi gelap (underexposed).

Untuk alasan itulah kita ingin mengontrol aperture. Jadi ketika kita ingin menggunakan shutter speed cepat, kita akan buka aperture lebih lebar lagi, sehingga memungkinkan lebih banyak cahaya yang masuk. Alhasil, meskipun kita menggunakan shutter speed cepat foto kita tidak akan terlalu gelap. Jadilah foto yang tajam tanpa blur meskipun benda/kamera Anda bergerak, dan masih cukup terang.

Memotret benda bergerak yang sangat cepat membutuhkan shutter speed cepat, dan membutuhkan bukaan yang lebar agar foto cukup terang.

Sebaliknya, ada momen dimana kita ingin memotret dengan shutter speed yang lambat sehingga objek bergerak jadi kelihatan blur. Biasanya untuk foto jalan kota di malam hari, dimana lampu-lampu mobil jadi seperti garis-garis panjang yang cantik. Nah di saat seperti ini, shutter speed lambat akan memperbanyak cahaya masuk, bisa-bisa fotonya jadi putih semua karena terlalu terang. Maka, kita bisa menyeimbangkan eksposur ini dengan menutup sedikit aperture, sehingga cahaya yang masuk berkurang dan foto tidak terlalu terang.

 

Angka dan Lebar Aperture

Aperture diukur dengan satuan f-stop, seperti f/1.8, f/2.8, atau ada juga f/5.6. Kalau Anda punya lensa kamera, pasti ada tulisan yang menunjukkan angka-angka seperti itu.

Angka f yang ada di lensa tadi menunjukkan aperture maksimum atau bukaan terlebar pada katup pisau yang ada di lensa. Semakin kecil angka f-nya maka semakin lebar bukaan aperture-nya (jadi lensa dengan f/1.8 bisa membuka katup lebih lebar dibandingkan f/5.6). Nah masing-masing lensa punya batas maksimum terhadap seberapa lebar katupnya bisa terbuka, dan ini bisa kita ketahui dari angka f yang tertulis di lensa seperti yang kita sebutkan tadi.

Terus, harus pilih lensa yang mana?

Tentu saja punya lensa yang memiliki nilai f kecil (alias aperture-nya bisa terbuka lebar), akan lebih fleksibel. Karena kita bisa lebih bebas memasukkan cahaya yang lebih banyak ke sensor kamera. Bayangin aja kalau jendela kamar Anda nggak bisa dibuka penuh, kan rasanya agak gimana gitu, kan? Yup, karena itulah lensa dengan nilai f kecil lebih sering dicari.

Akhirnya muncul pertanyaan lanjutan: kenapa nggak semua lensa pakai f yang kecil aja?

Jawabannya adalah soal mekanisme jerohan lensa dan soal biaya. Tidak semua lensa memungkinkan dipasangin katup yang lebar. Lensa-lensa yang bisa zoom cenderung tidak bisa disandingkan dengan bukaan lebar, karena akan mengganggu mekanisme jerohan lensa untuk melakukan zoom. Uhhm, sebenarnya bisa, tapi pasti membutuhkan mekanisme baru dan lebih rumit yang pada akhirnya membuat harganya lebih mahal, alhasil lebih kecil kemungkinan untuk laku keras. Karena itulah produsen lensa memilih memberikan bukaan maksimum untuk masing-masing lensa, dan membiarkan kita semua untuk memilih lensa yang paling sesuai dengan kebutuhan kita.

 

Apakah Aperture Nggak Bisa Digonta-Ganti?

Bisa. Dalam satu lensa, bisa saja memberikan range nilai f mulai dari f/1.8 hingga f/22. Kadang juga bisa lebih lebar maupun lebih kecil lagi. Itu artinya sangat memungkinkan bagi Anda untuk menggonta-ganti aperture atau bukaan yang Anda gunakan. Ingat nilai maksimum f ini beda-beda tiap lensa, jadi gunakan lensa yang memfasilitasi Anda terhadap besarnya bukaan yang Anda butuhkan.

Kemudian ada juga kasus seperti pada lensa zoom.

Kalau Anda pernah tahu, lensa yang bisa zoom biasanya ada tulisan seperti 18-55mm f/4-5.6. Itu artinya lensa tersebut beroperasi sebagai lensa yang memiliki focal length minimal 18mm dan maksimal 55mm (tidak perlu dipikirkan dulu, yang penting yang habis ini), dan juga berarti memiliki aperture paling lebar di f/4 ketika digunakan sebagai lensa 18mm dan kemudian memiliki nilai f maksimum di  f/5.6 ketika digunakan sebagai lensa 55mm.

Itu artinya ketika Anda mengoperasikan lensa pada focal length/zoom level tertentu, maka nilai bukaan aperture maksimum yang bisa Anda dapatkan akan berubah. Hal ini bisa didapatkan di hampir semua lensa zoom, kecuali di beberapa lensa zoom yang premium (hingga puluhan juta) yang meskipun kita gonta-ganti focal length-nya, nilai f maksimum yang bisa kita dapatkan tidak ikut berubah.

 

Aperture & Depth of Field

Dan yang paling penting kenapa aperture perlu dikontrol adalah soal ‘bokeh’. Hampir semua penggemar fotografi (terutama juga yang baru mulai) adalah bokeh hunter: apapun fotonya pokoknya background harus blur, hehe.

Lebar tidaknya bukaan aperture yang Anda pilih juga menentukan seberapa dalam area fokus pada foto Anda nantinya. Semua subjek dan objek yang masuk area fokus tadi akan tajam, sedangkan yang di luar area fokus nanti akan blur. Bagaimana hubungan antara blur dan aperture ini?

Semakin kecil nilai f yang Anda gunakan (jangan bingung, ini berarti Anda sedang membuka katup selebar-lebarnya), maka semakin tipis area fokusnya (depth of field-nya). Jadi ketika Anda menggunakan aperture f/1.8, Anda akan memiliki area fokus yang dangkal/sempit, sehingga lebih banyak area blurnya. Alhasil, foto Anda bisa blur banget jika itu yang Anda inginkan.

Sebaliknya, jika Anda menggunakan aperture f/22 misalnya, maka area fokus Anda akan jauh lebih dalam, membuat hampir semua objek yang masuk frame akan fokus dan tajam.

Contoh foto yang menggunakan depth of field sempit. Menggunakan f/1.8

Foto yang memiliki depth of field yang dalam. Menggunakan f/16

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *