Flash Kamera, Panduan Menggunakannya di Fotografi (Part 1)

Ngomongin soal flash memang sudah jadi “teman setia” para fotografer walau sebenarnya statusnya sekedar aksesoris. Flash on-camera jadi tak terpisahkan dari fotografer karena sangat membantu pemotretan untuk menyuplai cahaya tambahan ketika kondisi terlalu gelap bagi kamera. Bahkan sekarang penggunaanya tak lagi sekedar fungsional tapi juga menambah estetika foto.

Sebenarnya ada berapa banyak jenis flash untuk kamera sih? Bagaimana penggunaannya masing-masing? Nah, itulah yang akan kita kupas kali ini mulai dari dasar yang bakal dibagi ke dalam dua part artikel.

 

Flash External vs Flash Built-In,

Flash on-camera adalah tipe strobe light (flash) yang bisa dihubungkan langsung ke kamera. Dinamakan “on-camera” karena bukan bawaan kamera yang biasanya ada di dalam body, tapi biasa dipasang di atas kamera lewat hotshoe (konektor tembaga yang ada di atas kamera).

Flash external sendiri performanya lebih bagus dibanding flash built-in dan menyediakan banyak opsi sebagai lighting. Tidak hanya sekedar menjadi sumber cahaya tambahan.

Keuntungannya lagi, flash jenis ini biasanya punya baterai sendiri.

 

Mengenal Guide Numbers, Manual Usage, Mengontrol Flash Power dan Sync Speeds

Sebelum mempelajari teknologi otomatis pada flash, sebaiknya pahami cara mengontrol flash secara manual untuk lebih memahami anatominya. Seperti gear fotografi pada umumnya, flash juga punya angka-angka yang mungkin akan membuat Anda bingung. Dimulai dari yang namanya guide numbers.

Guide numbers sudah standar dengan angka bilangan makin besar maka cahaya flash makin kuat. Angka itu adalah hasil perkalian f/stop dengan jarak di ISO 100 (rumus GN = f/number x jarak). Contohnya adalah jika Anda punya flash dengan guide number 100 maka memotret jarak 25 kaki maka dibutuhkan memakai bukaan f/4 untuk ekposur yang bagus.

Juga harus dicatat, mengontrol exposure di kamera ketika pakai flash sebaiknya hanya dilakukan dengan memodifikasi aperture (tidak mengubah shutter speed). Sebab, durasi flash lebih pelan dibanding shutter speed.

Speed tercepat yang sebaiknya digunakan untuk pakai flash disebut “sync speed”. Jika Anda membuat eksposur lebih cepat dibanding sync speed (yang rata-rata maksimal 1/250 detik), maka ketika shutter, kamera cenderung tidak sempat “membersihkan” gambar/sensor ketika flash sedang menyala. Hasilnya adalah foto menjadi gelap/hitam pekat.

Sebaliknya, Anda dapat membuat eksposur lebih lambat daripada sync speed maksimal dan tetap menghasilkan foto yang terekpsos dengan baik.

 

Fill-Flash and “Dragging the Shutter”

Tidak hanya untuk menerangi subyek foto dalam kondisi kurang cahaya, flash juga bisa digunakan sebagai “pengisi” (filler) untuk dikombinasikan dengan pencahayaan ambient (cahaya natural di ruangan).

Seringkali ketika kita menggunakan flash, kita jadi lebih suka menggunakan shutter speed yang lebih cepat karena yakin subjek akan masih cukup terang. Namun, ketika memutuskan untuk melakukan itu, sebenarnya kita jadi membatasai sumber cahaya lain masuk ke dalam frame. Karena itu kita perlu memperlama shutter speed kita agar cahaya flash dan cahaya ruangan bisa masuk ke frame dengan seimbang, namun tidak cukup lama agar foto kita tidak ada yang shaky.

Teknik ini disebut ”menyeret” shutter speed dan dapat digunakan untuk menyorot subjek di depan kita, namun juga mendapatkan background yang cukup terang . Contohnya akan memotret lapangan atau semak-semak saat senja. Biasanya latar depan dan sekitarnya sangat gelap namun ada lebih banyak cahaya di bagian langit.

Untuk kondisi seperti itu bisa menggunakan flash menerangi area terdekat dan membiarkan shutter terbuka lebih lama untuk menangkap cahaya langit. Ini akan memberikan pencahayaan yang cukup untuk menyeimbangkan area gelap dan terang dalam satu frame.Teknik ini juga bagus untuk freeze gerakan di pencahayaan yang gelap.

Lalu apa itu fill flash?

Fill flash itu bisa dibilang serupa tapi tak sama.

Fill flash adalah teknik dimana Anda menggunakan flash untuk menggelapkan background dengan menjatuhkan cahaya flash di subyek terdekat. Teknik ini dapat digunakan pada siang hari atau dalam situasi yang cukup terang,

Untuk menggunakan fill flash dengan benar, caranya ukur metering subyek foto kemudian background. Perbedaan exposure tersebut yang akan diisi oleh flash. Setelah menentukan perbedaannya, aturlah kamera agar mengekspos background (dengan mindset bahwa kita akan menggelapkan bagian background) baru kemudian setting flash Anda untuk perbedaan stop diantara kedua area tersebut.

Cara ini efektif untuk me-render kedua area sehingga hasilnya lebih seimbang. Ini juga bisa dijadikan trik untuk membuat subyek terdekat lebih terang dibanding background agar lebih menonjol. Caranya seperti sebelumnya, hanya saja settinglah exposure kamera sengaja underexpose area ambient dan pastikan flash menyinari subyek foto dengan baik.

 

TTL Flash Metering

Semua perlengkapan yang disebut sebelumnya bisa digunakan maksimal memakai flash yang disetting manual. Dengan setting manual, fotografer yang memegang kendali penuh atas flash maupun kamera sehingga ideal untuk keperluan kreatif. Tapi tentunya tidak cocok untuk yang butuh cepat.

Nah, untuk kebutuhan praktis atau cepat bisa menggunakan TTL (Through-The-Lens) yang otomatis menyesuaikan dengan settingan yang ada di kamera. Metode metering TTL  akan menyesuaikan settingan power dan zoom pada flash secara otomatis dengan mempertimbangkan shutter speed, ISO, dan aperture yang digunakan pada kamera.

Metering flash TTL dimulai saat tombol shutter kamera ditekan yang kemudian memicu blitz yang terhubung. Flash ini kemudian mengirimkan semburan cahaya, pra-flash, yang akan menyinari subjek dan terpantul kembali melalui lensa.

Cahaya yang kembali ini diarahkan ke meter exposure yang akan menentukan berapa lama harusnya flash akan menyinari subyek. Sistem TTL modern sendiri dapat mengontrol pengaturan eksposur baik pada kamera maupun flash untuk memberikan hasil yang baik.

Tapi patut diingat, mau pake metode apapun dan flash merk apapun pastikan kompatibel ya. Karena flash bekerja secara otomatis, biasanya flash TTL dibuat khusus per brand, jadi flash yang digunakan untuk kamera Canon tidak akan bisa digunakan di Sony misalnya. Bahkan sistem TTL belakangan ini juga dipengaruhi jenis lensa. Kalau cocok maka kualitas jepretan dan metering eksposur akan semakin bagus karena akurasi jarak subyek dengan flash bisa tepat.

 

Dengan penjelasan ini apakah sudah mulai mengenal sedikit-sedikit apa itu flash? Jika masih bingung bisa simak artikel berikutnya ya! Nanti di artikel berikutnya akan dikupas lebih mendalam soal kemampuan flash dan aksesoris penunjangnya serta apa saja yang harus dipertimbangkan dalam membeli flash on-camera.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *