Bagaimana Petani Mengajarkan Fotografi kepada Aan Suprapto (Pemenang KONTEST Tema 1: “Family”)

947578566838573025_1011993060

 

Ketika seorang fotografer ditanya tentang objek apa yang paling suka ia foto, pernahkah kita terbayang akan ada yang menjawab: “Mungkin sawah atau terasiring, Mas…”?

Itulah yang dikatakan Aan Suprapto, pemenang KONTEST tema pertama: “Family”, fotografer yang juga sekaligus mengaku sebagai petani ini.

 

Mas Aan Suprapto mengawali hobi sekaligus karir fotografer-nya dari sebuah mata kuliah fotografi, pada suatu kelas jurusan komunikasi, di UNMER Madiun.

“Waktu itu ada konsentrasi kuliah di bidang jurnalistik, ya jadi mulai itu belajar fotografi & jurnalistik.”, kata beliau.

Beliau juga sempat mengenyam masa magang dan bekerja di beberapa perusaahan media seperti Jawa Pos, Trans TV, dan 5 tahun di harian Surabaya Pagi, tidak lain sebagai fotografer jurnalistik. Karena itulah atmosfer dan pengaruh jurnalistik begitu kental dalam karya-karyanya.

 

bu07aMXf

1081777234285418093_1011993060

1098295157371950696_1011993060

 

Dari feed akun Instagramnya, banyak foto yang terasa penuh (dengan) hasrat dan bernuansa semi-urban. Seolah foto-foto itu lahir dari seseorang yang benar-benar jatuh cinta dengan daerah itu, yang selalu terkesan dengan apapun yang disuguhkan masyarakat di sana.

“Itu di karisidenan Madiun, saya tumbuh dan menghabiskan banyak waktu di sana… Di sana banyak orang-orang pedesaan, ada rawa juga, gunung, identik dengan sawah juga, ya rata-rata saya motret human interest lah di sana.”

 

Foto-foto Mas Aan berhasil menangkap energi dari daerah semi urban. Foto-fotonya begitu jujur dan memperlihatkan keceriaan, kehangatan kehidupan masyarakat di sana. Boleh dibilang, kita yang melihatnya pun jadi ingin segera ke sana, seolah kita selama ini belum hidup di “Indonesia” yang sebenarnya.

_q1dIdhm

1139638349497096081_1011993060

 

Pengalaman unik pun juga menyertai beliau ketika pertama memotret di sana. Seperti respon lugu masyarakat: “Mas, buat apa? Orang kotor gini kok malah difoto…”. Menurut beliau malah keluguan dan kejujuran masyarakat di sanalah yang memberi energi pada foto-foto yang beliau ambil.

Sempat beliau juga mendapat job untuk acara wedding, dan mencoba menggunakan foto candid a la jurnalistik untuk event tersebut. “Sekitar lima tahun lalu, orang bilang foto candid itu apaan sih, orang nggak siap kok difoto.” Beliau menyodorkan foto-foto candid untuk event, namun tidak pernah diterima.

 

1131582157570954699_1011993060

1126891661116298992_1011993060

 

“Tetapi generasi berubah, masyarakat generasi muda ini malah lebih suka dengan foto-foto candid, sekarang kita malah masukkin paket khusus candid untuk event-event dalam penawaran kita.”, kata Mas Aan tentang perubahan taste masyarakat terhadap foto.

 

Objek foto apa yang paling Anda suka?

 

“Mungkin tekstur-tekstur tanah perkebunan, kontur-kontur perkebunan, Mas. Di Instagram saya kan juga banyak tuh pattern-pattern seperti itu juga ya? Itu karena difoto setiap hari itu, pasti ada aja yang berubah dari terasiring-terasiring itu mas. Mulai dari warna, terus ada sebagian yang belum tertanam, dan para petani itu menanam kadang lebih sering pakai insting, Mas. Jadi mereka menanam mengikuti kondisi tanahnya waktu mereka menanam itu saja, beberapa hari kemudian ketika mereka mulai menanam lagi, pattern-pattern baru pasti muncul lagi.”

 

1127834637694915734_1011993060 1127836750609110245_1011993060 1129654885821699787_1011993060 1132664387500234011_1011993060 1133206238158378745_1011993060

 

Ketika ditanya tentang ini, tentang status beliau di Instagram: “Photographer/Farmer”, beliau menjawab, “Kalau nggak nyoba sendiri kita nggak tahu, Mas.”

Menurut Mas Aan, hiburan paling asyik untuk orang-orang seperti beliau, khususnya yang tinggal di daerah Ngawi & Madiun adalah naik gunung. Melintasi terasiring dan alam pegunungan adalah sesuatu yang selalu mereka nikmati.

Apa pendapat Anda tentang KONTEST?

 

“Tertantang”, jawab Mas Aan.

“Jika ada yang bisa kita pelajari dari event ini mungkin adalah ini: foto bagus itu, bukan menurut kita sendiri. Saya sendiri dan temen-temen juga kadang antusias nunggu update TOP10, kira-kira siapa nih? Dan kadang heran juga, kok bisa ya foto kita kok nggak masuk. Tapi uniknya, temen-temen jadi bisa “legowo” dengan adanya TOP10 ini. Daripada menjatuhkan foto-foto yang sudah masuk TOP10, kita jadi belajar dari kekurangan sendiri seperti: apa ya yang kurang dari foto kita dibanding yang sudah masuk TOP10? Semacam itu.” Lanjut beliau.

 

1112656041472939886_1011993060

1112487282787472995_1011993060

 

Saat membahas bagaimana rahasia fotonya bisa jadi pemenang, beliau menjawab, “Nggak ada rahasia kok, Mas.” Beliau melanjutkan pengalaman uniknya saat mengambil foto juara tersebut, “Jadi kalau di Ngawi itu mas, kalau ada orang berangkat naik haji, itu dianter orang sekampung, Mas. Dan itu sampai nangis-nangis seperti mau ditinggal lama gitu. Lah ini kok menarik gitu lo. Saya mengambil 2 foto sebenarnya, tapi yang dipilih ternyata yang close-up itu. Itu sambil lari-lari sudah njepret, lah kok ada anak diangkat bapaknya dan di dalam bis itu ada neneknya, ya sudah akhirnya jadi foto itu.”

 

Saat ini, Mas Aan juga memiliki studio foto, Gen Photo Studio (bisa dicek di www.genphotophoto.com), yang menurut beliau sekarang lebih sering jadi meeting point karena klien-klien minta foto outdoor, that’s good.

Beliau juga mulai merambah ke industri wedding clip, dan video-video.

Follow Instagram Mas Aan Suprapto @aanspurapto , Pemenang KONTEST tema: “Family”.

Related Post

5 thoughts on “Bagaimana Petani Mengajarkan Fotografi kepada Aan Suprapto (Pemenang KONTEST Tema 1: “Family”)”

  1. Untuk mas aan
    Saya seneng dgn style anda semi urban
    Perrtanyaan saya apa sih yg mas pikirkan ktika misalnya motret hi dg laatar blkg landscap

    1. Terima kasih mz Ragil. menurut saya memotret HI dengan latarbelakang, entah itu alam, bangunan atau suatu aktifitas, akan lebih memberikan nilai artistik serta pesan yang lebih luas pada sebuah foto. klo secara teknis, memotret dengan menggabungkan 2 kategori foto (HI &Lanscape) jelas lebih susah, karena fotografer tidak harus pintar dalam pemanfaatan momen saja tetapi sudah berfikir lebih jauh untuk Poin of interest kedua ketiga sebelum memencet shutter.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *