Beda Mirrorless Harga Di Bawah & Di Atas 10 Juta ?

Mirrorless kini sudah menjadi pilihan populer untuk memotret karena bodinya yang ringan dan compact dibawa kemana-mana, apalagi kualitas hasil jepretan menyamai DSLR.  Namun dengan banyaknya pilihan mirrorless juga membuat  bingung membeli yang mana.

Pilihan yang sering terlintas adalah lebih baik beli kamera mirrorless murah atau sekalian yang mahal?

Memang banyak beredar anggapan lebih baik menunggu hingga memiliki budget untuk membeli mirrorless di atas Rp 10 juta mengingat kualitas yang ditawarkan.  Namun sebenarnya yang harga di bawah Rp 10 juta tidaklah melulu “jelek” lho. Apalagi yang namanya teknologi itu tak ada habisnya alias cepat jadul, begitupun mirrorless. Jika terus menunggu “besok” ya ujung-ujungnya tidak terbeli.

Nah, simak artikel ini dulu ya daripada galau terus.

Bingung cari Mirrorless? Mulai dari sini…

Poin Wajib Ada di Kamera Mirrorless

Kamera mirrorless sendiri memikat publik karena sisi kepraktisan yang kemudian ditambahi berbagai teknologi untuk memenuhi kebutuhan konsumennya.

Sebelum menilik plus minus mirrorless premium dan low budget, ada poin apa saja yang perlu dipertimbangkan?

  • Bisa merekam video
  • Sensor kamera minimal 4/3 (kalau bisa minimal APS-C)
  • Shutter speed di bisa selambat 30fps untuk memotret low light dan juga bisa sepersekian ribu detik atau lebih cepat untuk mengabadikan momen yang bergerak cepat.
  • Autofocus cepat
  • ISO tinggi dengan minim noise (biasanya noise muncul mulai ISO 1600)
  • Punya viewfinder atau “hanya” LCD
  • Memiliki konektivitas yang mumpuni agar bisa memindah foto langsung ke perangkat komputer dan bisa jadi shutter jarak jauh
  • Adanya focus peaking (kamera akan menandai fokus dengan garis-garis di obyek sehingga meminimalisir salah fokus)
  • Memiliki slot microUSB untuk mengisi baterai karena biasanya mirrorless cepat nge-drop.

 

Kamera Mirrorless Kategori Premium dan Low Budget

 


Gambar: Fujifilm X-A2

 

Mirrorless low budget di bawah Rp 10 juta :

  • Sony A6000 (Rp 6,5 jutaan)
  • Sony A5100 (Rp 7 jutaan)
  • Sony A5000 (Rp 5 jutaan)
  • Nikon 1 J5 (Rp 5 jutaan)
  • Fujifilm X-A2 (Rp 7 jutaan)
  • Canon EOS M3 (Rp 6 jutaan)
  • Canon EOS M100 (Rp 7 jutaan)

 


Gambar: Sony A6300

 

Mirorless premium di atas Rp 10 juta :

  • Sony A6300 (Rp 14 juta)
  • Sony A6500 (body only Rp 19 juta)
  • Fujifilm X-T10 (Rp 12 juta)
  • Canon EOS M5 (Rp 14 jutaan)
  • Canon EOS M6 (body only Rp 10 juta)
  • Sony A7 (Rp 14 jutaan)

Secara logika, harga yang mahal tentunya memiliki lebih banyak keunggulan dibanding yang murah terutama, dari segi teknologi yang lebih mutakhir. Tapi apakah itu benar?

 

Keunggulan Mirorless harga di atas Rp 10 juta :

  • Shutter speed lebih cepat, baik dalam format JPEG dan RAW
  • Sensor lebih besar

Sony A7 sudah dibekali sensor 35mm (Full Frame), sedangkan Sony A6000 sensornya APS-C. Namun kebanyakan kamera mirrorless dibekali APS-C.

  • Ketersediaan ISO lebih tinggi sehingga kualitas foto di low light jadi lebih baik
  • Biasanya sudah dilengkapi mic jack untuk memudahkan merekam video, disertai kualitas sound yang juga bagus.
  • Resolusi foto lebih tinggi jadi hasilnya tajam
  • Sudah dilengkapi image stabilization build-in yang lebih canggih jadi tak perlu pusing memikirkan gonta-ganti lensa yang ada stabilization systemnya.
  • Biasanya dibekali electronic viewfinder (EVF) sehingga tetap bisa memotret tanpa perlu melihat display
  • Mirrorless relatif lebih lama booting untuk on setelah dihidupkan dibanding DSLR, tapi kamera yang mahal biasanya tidak perlu menunggu lama.
  • Sudah dilengkapi konektivitas lengkap seperti Wi-Fi, Bluetooth dan NFC. Bisa juga dijadikan remote shutter jarak jauh.

 

Keunggulan Mirorless harga di bawah Rp 10 juta :

  • JPEG buffer lebih besar

Fujifilm X-A2 (Rp 7 jutaan) memiliki buffer lebih besar dibanding Fujifilm X-T10 (Rp 12 juta) baik dalam JPEG maupun RAW. Namun di sisi lain Canon EOS M100 (Rp 7 jutaan) justru memiliki buffer JPEG lebih besar.

  • Bodi kamera lebih tipis dan ringan

Meski tidak paten namun mirrorless murah relatif dibuat dari bahan lebih ringan sehingga mempengaruhi bodinya secara keseluruhan. Meski begitu ada perbedaan kenyamanan grip (pegangan) di beberapa merk. Tapi bodi ringan juga perlu dijadikan pertimbangan jika ingin gonta-ganti lensa karena bisa jadi malah tidak kuat menyokong lensa.


Gambar: Canon EOS M5

 

Kelemahan  Mirorless  under Rp 10 juta :

  • Tidak semua sudah dibekali kemampuan merekam video 4K

Meski begitu biasanya tetap bisa merekam video namun kualitasnya di bawah 4K atau UHD (4096 x 2160 pixel). Setidaknya sudah mendapat kualitas 1080p.

  • Tidak semua memiliki viewfinder jadi hanya dibekali display.

Display ini biasanya LCD touchscreen yang bisa dikeluarkan atau ditekuk yang memudahkan untuk selfie. Masalahkanya jika kamera hanya memiliki LCD maka akan kurang praktis untuk memotret di bawah terik matahari karena bakal kesulitan melihat layarnya.

  • Shutter speed maksimal biasanya lebih lambat
  • Booting kamera saat dinyalakan biasanya makan waktu lama
  • Pilihan lensa native terbatas

Ada yang mengatakan bahwa pindah ke mirrorless itu sama artinya mulai dari nol soal lensa dan bisa jadi benar.

Sebenarnya bisa diakali menggunakan adaptor lensa tapi tentunya tiap merk juga berbeda kemampuannya. Apalagi jika tidak dibekali image stabilization built-in sehingga harus memakai lensa yang dibekali Optical stabilization.

Dari beberapa poin di atas jadi bisa mulai dipertimbangkan untuk mengumpulkan budget hingga bisa membeli kamera mahal atau langsung membeli kamera low budget. Anda lebih setuju yang mana?

 

SOURCE:

Imaging Resource, Puppy Traveler, KlikMania, Dee-nesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *