Menjadi Fotografer Tanpa Punya Kamera. Kuasai Cara Membuat “Storyboard”.

“Sebelum ada kamera, cerita/legenda sudah disukai oleh nenek moyang kita.”

Dengan teknologi kamera saat ini (dan sedikit kreatifitas) beragam foto artistik bisa didapat. Namun tahukah Anda bahwa kita seringkali lebih tertarik pada “cerita” dari sebuah foto?

THE MAGIC OF STORYTELLING PHOTO

Foto 1

using-wireless-ttl-flash-5

 

Foto 2

w704

Dua foto, sama-sama di dalam ruangan, lalu mana yang lebih menarik bagi Anda? Jika benar Anda memilih foto 2 (sama seperti saya) maka alasan mengapa Anda memilih foto tersebut (mungkin) karena elemen dalam foto tersebut lebih mampu bercerita. Properti, subjek dalam foto, semua lebih mampu mengarahkan kita ke satu kesimpulan yang jelas.

Sekarang, bagaimana kalau diiringi dengan foto-foto pendukung seperti berikut:

Story

Jauh lebih menarik bukan? Sebagus apapun foto yang akan menggantikan gambar 1 tadi, kita cenderung suka pada “beberapa seri foto” yang memberikan cerita relevan dan koheren. Karena itulah kita juga suka dengan collage, dan Youtube jauh lebih viral daripada website fotografi manapun.

Jadi,

sebelum Anda memiliki kamera, mampu membuat framing atau komposisi that has story in it adalah sesuatu yang lebih esensial. Dan itu tidak ada hubungannya dengan Anda punya kamera atau tidak (ada juga sih, karena Anda perlu tahu perlengkapan apa yang Anda butuhkan untuk mendapatkan gambar yang Anda inginkan).

Lalu bagaimana cara cepat belajar framing atau kompisisi yang mengutamakan cerita? Sering tonton film atau baca komik. Percayalah, Film Director pasti sudah mengenyam fotografi jauh sebelum mereka masuk dunia film, dan Comic Artist memiliki kemampuan komposisi yang (seringkali) lebih baik daripada kebanyakan fotografer.

THE STORYBOARD

Apa yang dilakukan Film Director dan Comic Artist sebelum memproduksi karya mereka? mereka membuat storyboard. Bisa sesederhana ini:

w704 (10)

Contoh di atas memang terlihat seperti gambar anak-anak, tetapi bukan itu intinya, yang penting Anda memiliki visi tentang bagaimana foto/video Anda nanti akan diambil. Dengan pemahaman dasar tentang perspektif, Anda sudah bisa memetakan scene yang akan diambil nantinya.

SHOT BY DISTANCE

Membuat storyboard bukan tentang bisa menggambar dengan  bagus (meskipun bisa menggambar memang lebih baik), tapi tahu tentang jenis komposisi, jarak, dan permainan cahaya yang diharapkan nantinya.

Dan di antara semua itu, yang paling dasar adalah mengerti bagaimana menggunakan jarak kamera dan kapan menggunakannya.

w704 (11)

Syarat sebuah scene/foto bisa menceritakan banyak hal adalah dengan membantu audience menemukan siapa karakter utama dalam scene, mengapa dia ada di tempat itu, melihat situasi sekeliling kira-kira apa yang biasa dia lakukan, semua pertanyaan ini sebaiknya dapat dijawab dalam sebuah scene.

Karena itu Long Shot yang memotret badan subjek secara (hampir) penuh dikombinasikan dengan latar tempat dan properti biasanya mengawali sebuah rangkaian scene/foto seperti foto pertama tentang Muay Thai sebelumnya.

Setelah Long Shot, biasanya diikuti dengan Medium Shot dimana kita akan berusaha memperlihatkan secara lebih dekat tentang karakter dalam scene (Contoh: foto petarung Muay Thai yang sedang dipijat). Medium Shot sebaiknya menggambarkan kegiatan. Sehingga kesan kinetik/energi dalam medium shot mampu menghubungkan Long Shot ke Close Up Shot ataupun ke Long Shot yang lain dengan smooth.

Dan apabila subjek sedang berdiri saat mengambil Medium Shot, sebaiknya jangan memotong subjek di area lutut. Foto/Scene akan terkesan aneh. Pilih jarak dimana Anda bisa mengambil gambar di atas area lutut (pinggang misalnya).

Setelah itu Close Up Shot. Biasanya menceritakan tentang reaksi (baik berupa ekspresi wajah, kaki mundur, dll) dari kejadian yang sebelumnya sudah digambarkan.

Bisa bayangkan foto Close Up kaki petarung Muay Thai di atas jika tidak ada foto-foto lain? Terkesan biasa dan kita tidak menangkap maksudnya. Namun jika diiringi foto-foto lain, foto Close Up menjadi sangat memukau karena merupakan detail cerita yang belum tentu mampu digambarkan orang lain.

 

Nah, setelah tahu semua ini, seharusnya kita semua sadar bahwa ada proses yang jauh lebih penting daripada memiliki atau memegang kamera. Mulailah berimajinasi dan gambarkan menjadi storyboard. Begitu Anda menyentuh kamera, maka kamera itu akan menjadi lebih berharga karena mampu merealisasikan imajinasi Anda yang terdalam. :)

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *