Masalah Paling Umum Dalam Fotografi Dan Cara Memperbaikinya (Part 2)

Melanjutkan artikel sebelumnya, kali ini kita akan menjawab permasalahan lainnya yang juga sering dihadapi oleh fotografer saat memotret. Pemula maupun sudah expert, kesalahan masih kerap terjadi apalagi saat memegang kamera/lensa baru. Ada baiknya Anda membaca ini sebelum memulai motret agar lebih aware saat terjadi.

No. 10: Beberapa hasil foto nge-blur ketika lensa nge-zoom lebih panjang. Bagaimana menghindarinya?

Goyangan kamera memang sulit diatasi apalagi dengan focal length panjang. Cara termudah menghindarinya dengan menggunakan shutter speed lebih cepat meski jadinya harus menaikkan ISO.

Aturan umumnya yaitu shutter speed harus lebih cepat darpada focal length yang Anda pakai saat memotret. Jadi jika memotret dengan lensa 200mm maka jangan memakai yang lebih lambat dari 1/250 detik atau nantinya bakal jelek hasilnya.

Penggunaan image stabilisator juga bagus untuk mengurangi shake (stabilisator bisa ada di lensa, bisa ada di body). Dengan stabilizer, hasilnya akan tetap bagus bahkan ketika mengurangi shutter speed dari 1/500 sec ke 1/30 sec sekalipun. Cobain deh!

 

No. 11: Mode autofocus mana yang sebaiknya digunakan?

Kebanyakan kamera memiliki dua fitur basic mode autofocus (AF): Single dan Continuous (disebut juga One-shot dan AI-Servo di kamera Canon).

Untuk pemotretan general, memakai mode Single adalah pilihan terbaik karena autofocus mengunci target bidik saat tombol shutter ditekan setengah shutter dan tidak berubah hingga tombolnya benar-benar ditekan penuh untuk menjepret.

Sedangkan mode Continuous bagus untuk membidik target yang bergerak. Karena fokusnya akan terus mengikuti pergerakan subyek foto walau kualitas jepretan akhir tergantung sistem AF kamera Anda sih.

 

No. 12: Saya merasa fokus manual agak sulit. Adakah cara lain untuk mendapatkan hasil lebih bagus?

Jika Anda menggunakan DSLR maka coba hindari memakai viewfinder optic dan utamakan pakai display/screen untuk memotret serta fokuskan secara manual. Lama-lama Anda akan mengenali bahwa di kamera, titik fokus sudah didesain bisa fokus sangat presisi.

Beberapa kamera juga memiliki fitur Focus Peaking dimana area yang fokus akan di-highlight di display dengan warna yang kita pilih (kuning, merah, hijau, dll.).

 

No. 13: Jika foto saya hasilnya terlalu terang atau gelap, bagaimana memperbaikinya?

Jika hasil foto terlalu gelap atau terang maka sekarang saatnya memainkan fungsi kompensasi exposure di kamera. Dengan menekan tombol ‘+/-‘ dan memutar control dial kamera, Anda dapat membetulkan exposure compensation. Gampangnya, dari situ Anda bisa men-setting seberapa terang/gelap hasil foto Anda nantinya.

Level exposure kamera yang diukur dengan “stop” akan tampil di viewfinder dan layar LCD, ini akan jadi panduan visual untuk mendapatkan ukuran yang benar. Penanda di tengah dari garis skala menunjukkan nilai exposure yang benar. Dengan memutar dial, nilai indikatornya akan turun/naik.

Ketika penanda bergerak ke “+” di ujung garis skala maka artinya semakin terang. Begitupun sebaliknya saat penanda ke arah “-“ maka foto akan semakin gelap.

Jika Anda memakai viewfinder optical, perubahan itu tidak akan terjadi pada tampilan image tapi setidaknya efek dari kompensasi exposure ini disimulasikan di live view dan electronic viewfinders (EVF).

No. 14: Foto landscape biasanya memiliki masalah langit terlalu terang dan bagian tanah terlalu gelap. Apakah saya melakukan kesalahan?

Perlu dipahami bahwa langit jadi terlalu pucat karena pada dasarnya lebih terang daripada area tanah. Sehingga jika area tanah dalam frame “diukur” dengan benar maka bagian langit jadi terang sekali. Masalah ini disebabkan oleh dynamic range yang terlalu luas dibanding kemampuan sensor untuk menangkapkanya dalam satu jepretan.

Cara paling mudah dengan menambahkan filter gradual neutral density (ND) untuk menyeimbangkan exposure, dimana area atas (langit) akan lebih gelap daripada biasanya untuk menyesuaikan dengan area tanah. Memotretlah dalam format RAW atau cobalah sedikit meng-under exposure untuk mendapatkan detil lebih jelas.

 

No. 15: Saya sering melihat hasil foto landscape dengan long exposure seperti ini tapi saya sulit mendapatkannya memakai shutter speed pelan. Bagaimana mengatasinya?

Untuk shutter speeds lambat di siang hari (daylight), Anda dapat menggunakan aperture sekitar f/16 atau f/22. Tapi settingan itu tidak cukup untuk mengaktifkan eksposur lama, bahkan untuk ISO 100 sekalipun.

Kalau mau praktis bisa menggunakan filter ND (neutral density) sebagai tambahan pada lensa. Sehingga Anda tidak perlu khawatir foto Anda akan terlalu terang meskipun menggunakan shutter speed yang sangat pelan sekalipun.

Baca Juga: Mengenal Filter ND, Si Pembuat Dramatis Foto Air Terjun

No. 16: Ketika saya playback foto-foto di screen LCD kamera kok sebagian seperti berkedip-kedip. Apakah ada kesalahan?

Itu sebenarnya adalah fitur “highlight alert” yang biasanya nyala/mati via playback di menu kamera. Ketika dinyalakan, area foto yang over exposed akan berkedip antara hitam dan putih.

Misalnya, Anda pas kurang suskes dalam menangkap detil langit atau area terang dalam foto maka akan langsung terlihat sebagai “warning”. Jadi Anda akan aware ada masalah dalam foto dan bisa segera mengulang memotret jika tidak puas.

No. 17: Bagaimana caranya mendapatkan foto portrait yang bagus saat cuaca sedang terik-teriknya?

Sinar matahari (yang terlalu terang) itu sebenarnya musuh terbesar untuk foto wajah/portrait karena cahayanya terlalu tajam. Ketika matahari sedang posisi rendah-rendahnya di langit maka orang akan memicingkan mata, namun ketika di atas kepala bakal terbentuk bayangan tajam yang membuat mata jadi seperti black hole.

Jawabannya adalah dengan mengalihkan perhatian subyek foto dari matahari sehingga mereka dapat berpose secara alami, dan jangan lupa gunakan fill-flash untuk menghilangkan bayangan. Ketika menggunakan flash dengan metering TTL (Through The Lens), sebagian besar kamera akan bisa melakukan balance antara cahaya flash dan cahaya ambient/ruangan dengan baik sehingga hasilnya natural.

Gunakan metering di kamera sebagai guide, tapi jangan melampaui shutter speed maksimal untuk sinkronisasi flash (kisaran 1/200 sec). Sistem exposure flash TTL seharusnya bisa menyediakan jumlah pantulan yang pas untuk fill-flash tapi tetap siap-siaplah menghadapi exposure negatif ataupun positif dari flash. Untuk kontrol penuh, alihkan ke power setting manual pada flash dan sesuaikan power untuk keseimbangan terbaik.

Opsi lainnya yang bagus untuk membuat fill-flash natural adalah menggunakan flash secara off camera yaitu peganglah tinggi-tinggi dan mengarah ke satu sisi subyek memakai tali dipanjangkan atau wireless.

 

No. 18: Kenapa bangunan, tembok atau atap jadi menekuk keluar di hasil foto?

Hal ini biasanya terjadi karena memotret bagunan dari jarak dekat, apalagi jika memakai lensa wide. Focal length lensa wide angle memang kerap membuat distorsi pada garis. Alhasil bagian atas/atap dan bawah/ground dan samping bangunan jadi terlihat bengkok.

Solusinya adalah menjaga jarak sehingga Anda bisa menggunakan setting zoom sekitar 35mm (50mm pada kamera full frame).

Untuk memotret gedung tinggi akan ideal jika bisa menemukan tempat strategis yang lebih tinggi daripada tanah. Anda juga masih bisa mengoreksi perspektif yang tidak pas saat mengeditnya nanti. Jadi pastikan Anda menyertakan cukup banyak space di area bangunan saat memotretnya agar mudah di-crop saat mengeditnya.

No. 19: Sebagian besar foto panning, background sering terlihat terlalu tajam atau malah blur semua. Ada tips untuk mengatasinya?

Memang sangat sulit mendapatkan shutter speed yang cukup lambat untuk membuat background yang nge-blur cantik, ketika di saat yang sama kita juga ingin mendapatkan shutter speed cepat untuk menghentikan goyangan kamera.

Biasanya shutter speed sekitar 1/500 detik digunakan untuk menghindari kamera goyang saat menggunakan lensa 300mm.

Nah, untuk membuat motion blur yang bagus pada background dibutuhkan shutter speed yang lebih lambat seperti 1/60 atau 1/125 detik. Jadi memang dibutuhkan banget teknik panning yang efektif.

Nah, panning yang bagus bisa dilakukan dengan cara membuka kaki (di posisi yang Anda nyaman) sehingga Anda bisa memutar badan dengan enak saat kendaraan yang jadi subjek melewati Anda. Anda sebaiknya juga terus memutar pinggang Anda mengikuti gerakan kendaraan yang Anda foto, bahkan setelah subyek lewat. Ini akan membuat blur background tampak lebih bagus.

 

Artikel ini sudah mengulas ke-19 problem yang paling sering ditemui ketika memotret dan biasanya masih awam untuk pemula. Bagaimanapun latihan adalah yang terbaik. Bersabarlah melakukan trial and error hingga akhirnya hapal di luar kepala cara mengatasinya. Selamat memotret!

Sumber: Techradar

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *