List Audio yang Bisa Digunakan untuk Vlog

Suka nonton video vlog?

Pastinya Anda akan menyadari bahwa sebenarnya nge-vlog bukan hanya perkara video yang kece tapi juga audio yang enak didengar oleh telinga. Sebuah video yang visualnya keren biasanya juga memiliki audio yang sama bagusnya, tidak bisa hanya salah satu.

Jadi penting banget lho menguasai bagaimana cara menghasilkan audio yang ciamik untuk video!

Dalam seni merekam video, tantangan terbesar untuk audio adalah menangkap dialog secara terpisah dari semua kebisingan latar belakang. Dalam dunia film profesional itu disebut “sound stage”.

Bagaimana caranya membuat sound stage untuk vlog?

Pertama siapkan gear-nya, lalu pahami caranya dan simak tipsnya berikut ini.

 

Mikrofon

Jangan salah ya, suara jernih yang ada dalam video/vlog bukan otomatis bagus tapi ditangkap menggunakan mikrofon eksternal (bukan mikrofon bawaan kamera). Ada 2 jenis mic yang paling sering digunakan untuk menangkap audio dalam merekam video yaitu shotgun dan lavalier.

Mic Shotgun biasanya disematkan di atas bodi kamera atau dipasang memakai boompole sehingga tidak masuk frame video. Sedangkan  mic lavalier adalah mic kecil yang dijepitkan pada pakaian yang biasa digunakan presenter.

 

Mic Shotgun

Shotgun merupakan jenis mic paling serbabisa untuk video. Tidak heran bila mic shotgun jadi barang wajib untuk videografer paling low budget sekalipun.

Mic shotgun adalah tipe directional (hanya merekam suara dari arah tertentu, disesuaikan dengan polanya), rata-rata shotgun memiliki pola cardioid bentuk hati yang menangkap dengan baik suara dari sisi depan dan samping mic.

Sedangkan sans windscreen yang jadi bagian utama mic shotgun, berbentuk laras logam dengan ventilasi di samping. Secara desain, Shotgun mic memang untuk dipasang di boompole atau fish pole (tongkat panjang yang jadi alat bantu untuk pemasangan mic) tapi bisa juga disematkan di bodi kamera.

Bicara soal polar pattern, Shotgun Mic memiliki variasi pola yang bermacam-macam, ada cardioid, hyper-cardioid, figure of 8, dll. Penting untuk mengetahui darimana sumber suara yang ingin direkam nantinya dan gunakan mic yang memiliki polar pattern yang sesuai.


Mic Shotgun dipasang di hot shoe DSLR dan dikoneksikan dengan kabel.

Menariknya, kadang jika sumber suara terlalu jauh, mic shotgun membutuhkan “operator”. Mic akan dipasang pada boompole dan operator akan memegangi dan mengarahkan mic ke sumber suara.

Hal ini tidak lain karena sifatnya yang directional dan jarak efektif shotgun mic yang rata-rata hanya sekitar 1,8 meter.

Shotgun yang dipasang di boompole biasanya masih diberi tambahan shockmount. Benda silinder dari bahan karet ini berfungsi untuk meminimalisir suara-suara yang muncul akibat gesekan dengan tangan atau dengan benda lainnya, tentu saja agar suara-suara tersebut tidak ikut masuk terekam.  Shockmount juga bisa ditambahkan untuk mic shotgun yang dipasang di bodi kamera.

Shockmount (kiri) dan saat digunakan dengan mic shotgun yang sudah dilengkapi wind shield.

Harap diingat, mic dengan pola directional bukan berarti bersih total dari noise di latar belakang. Jadi caranya mic harus didekatkan dengan sumber suara sedekat mungkin.

 

Mic Lavalier

Mic lavalier (atau disebut mic lav) berukuran kecil dan memiliki clip-on untuk dijepitkan pada pakaian subyek. Mic ini sering digunakan oleh presenter, trainer atau untuk presentasi karena tidak perlu dipegang tangan dan memberikan kesan profesional.

Mic Lav sendiri tipe unidirectional alias directional yang tidak terlalu kuat. Sebagian mic tipe ini dilengkapi dengan sistem wireless, dayanya diperoleh dari baterai yang ada pada transmitter (pemancar). Sedangkan mic yang menggunakan kabel membutuhkan plug-in power untuk sumber daya.

Mic ini bagus untuk mengatasi noise di latar belakang karena harus diletakkan sangat dekat dengan mulut. Sehingga noise ambient tidak bisa masuk ke dalam mic.

Namun secara kualitas, mic lav biasa saja dibanding shotgun.

Karena mic lav memang didesain hanya unuk merekam ucapan maka tidak bisa merekam frekuensi secara penuh. Jadi noise atau suara tidak penting akhirnya di-cut dan tidak terdengar.

Selain itu mic lav tidak cocok untuk merekam sumber suara bukan manusia (gitar, alat musik, atau benda-benda lainnya).

Tapi terlepas dari itu, teknologi canggih jaman sekarang mulai membuat mic Lav untuk merekam live show.

 

Mic Lav yang Nirkabel atau Pakai Kabel?

Biasanya orang berpikir mic lav itu wireless karena hanya dijepitkan di pakaian dan pemakainya bebas bergerak. Praktis memang, tapi sistem nirkabel (wireless) ada kekurangannya lho.

Kekurangan sistem wireless adalah risiko gangguan radio. Jika ada alat-alat pemancar gelombang radio lain, misalnya: Wi-Fi, mikrofon wireless lain, atau kadang handphone, maka transmisi sinyal mikrofon ini bisa terganggu. Nah, kalau ada masalah seperti itu, besar kemungkinan audio bagian itu hilang. Jadi jika memutuskan memakai sistem wireless, maka pastikan keadaan di tempat perekaman cukup mendukung ya…!


Tatanan lav wireless dengan mic/transmitter (kiri) dan receiver yang dipasang di atas kamera.

Sementara itu, mic lav wireless yang murah hanya bisa satu channel, jadi kalau saat itu frekuensi sedang padat maka Anda tidak akan bisa memakainya. Kalau Anda bersedia beli wireless mic yang lebih canggihan, biasanya sudah bisa multi-channel kok.

Namun sebenarnya mic lav yang pakai kabel sendiri tidak merepotkan. Jika untuk digunakan di studio masih enak dilihat dan pemakaianya masih nyaman bergerak.

 

Recorder

Jika kamera Anda punya input audio maka Anda bisa merekam langsung dari sana. Tapi biasanya kualitas perekaman audio bawaan kamera DSLR tidak bagus. Sangat dianjurkan memiliki recorder terpisah untuk merekam dan keuntungannya lebih banyak lho!


Kamera yang dipasangi recorder digital external dengan penyusunan mic X-Y dan kabel XLR.

Recorder audio yang bagus adalah yang memiliki input XLR atau XLR/TRS hybrid. XLR adalah connector tiga cabang yang biasa digunakan pada mic panggung. Jenis ini kuat dan terlindung serta memiliki kabel yang balance. Artinya, kawat tembaga di dalamnya tidak akan berfungsi seperti antena radio yang mengambil semua jenis suara berisik tanpa difilter dulu.

Namun patut dicatat jika memilih mic dengan kabel yang jack-nya XLR, Anda harus menyediakan phantom power sebagai sumber daya. Biasanya mic-mic dengan kabel XLR memiliki kualitas suara bagus dan membutuhkan aliran daya yang lebih banyak. Karena itu recorder yang bagus bisa mensuplai phantom power sebesar 48v pada mic-mic itu tadi. Tidak semua recorder bisa mensuplai phantom power loh, ingat!

 

Mic USB

Nah, ini adalah opsi mudah buat yang mau vlogging untuk di studio sendiri, entah itu di rumah, di kamar, atau dimanapun selama komputer bisa menyala.

Kenapa? Karena tipe mikrofon ini adalah tipe mic yang colokannya berupa colokan USB. Anda bisa memasangkan mic ini langsung ke komputer atau laptop. Konsepnya adalah suara akan masuk ke mic, dan suara akan direkam menggunakan software yang ada pada laptop.

Sebelum mulai merekam, biasanya Anda harus memastikan terlebih dahulu apakah software pada laptop sudah membaca mikrofon eksternal ini. Jika sudah, maka selanjutnya Anda harus memilih mic ini sebagai mic utama perekaman suara, karena bisa jadi laptop Anda malah membaca mic internal laptop untuk merekam (semua ini mirip dengan memilih printer).

Mic seperti ini biasanya dipasang di atas meja atau terkadang perlu stand sendiri. Sebenarnya konsepnya sama dengan penjelasan mic sebelumnya, hanya saja mic ini bisa langsung dikoneksikan dengan laptop.

Tips Hacks!

Bagaimana jika belum mampu atau belum berencana membeli mic dan recorder?

Sebenarnya semua orang bisa dibilang memiliki alat perekam audio dan video di kantong mereka kok.

Ya, smartphone masa kini sudah memiliki kualitas perekaman yang nggak ecek-ecek. Bahkan gadget Anda itu bisa kok dicolok mic 3.5mm self-powered maupun unpowered untuk dijadikan recorder lho.

Anyway,

Video Adalah Dialog-Centric

Urusan sound dalam produksi video, ironisnya, justru yang paling sering terlupakan.

Biasanya orang berasumsi video itu murni medium visual padahal tidak. Video itu justru kebanyakan malah audio-centric.

Bahkan video 4K tidak ada gunanya begitu berhadapan dengan koneksi lambat dimana viewer mungkin hanya menikmati mentok di 720p, tapi audio yang jernih masih keharusan. Jadi pastikan Anda memiliki amunisi terbaik untuk merekamnya!

 

Selamat mencoba dan teruslah berlatih merekam audio terbaik!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *