Lensa Fix vs Lensa Zoom

Dalam 1 dekade ini, lensa zoom memang sudah berhasil merebut hati banyak fotografer profesional berkat kemampuannya yang dianggap serbabisa. Apalagi dengan kualitas sensor sekarang yang mampu menghasilkan gambar bagus (bahkan ketika menggunakan ISO tinggi), sangat masuk akal sekali jika banyak yang jatuh cinta dengan kenyamanan lensa zoom ini.

Dan memang benar bahwa lensa zoom semakin tahun semakin tajam — bahkan, lensa kit bawaan aja sekarang udah cukup untuk kebutuhan sehari-hari dan juga udah pada gembar-gembor soal image stabilization juga. Beberapa lensa zoom yang udah grade pro bahkan menawarkan kualitas yang menyaingi lensa fix pada focal length yang sama.

Namun terlepas dari ini semua, lensa fix tidak kehilangan daya tariknya loh!

Manufaktur seperti Canon, Nikon, & Sony terus-terusan nge-update dan memperluas pilihan lensa mereka dengan lensa-lensa baru yang juga lebih bagus dari yang sebelum-sebelumnya. Kemudian perusahaan lensa third-party seperti Sigma juga dengan percaya dirinya masuk ke area pertempuran lensa juga.

Nah gara-gara ini semua, memilih antara menggunakan lensa zoom atau lensa fix jadi semakin susah aja. That’s why mari kita bahas karakteristik masing-masing tipe lensa ini.

 

Apa Itu Lensa Fix?

Lensa fix adalah lensa yang memiliki satu focal length saja (atau biasaya juga disebut sebagai lensa prime). Ini artinya lensa jenis ini hanya memiliki satu field of view (100° ya 100° saja, 80° ya 80° saja), dan nggak bisa digonta-ganti. Ketika Anda menggunakan lensa ini, selama Anda tidak berpindah tempat maju ataupun mundur, maka Anda tidak bisa membuat objek foto Anda tampak lebih besar atau lebih kecil di dalam frame.

Satu-satunya cara membuat subjek foto terkesan lebih besar adalah dengan maju beberapa langkah, dan satu-satunya cara membuatnya tampak kecil adalah dengan mencoba mundur.

Lensa fix mempunya satu ukuran focal length saja, misal 50mm. Banyak variasi focal length pada lensa fix, mulai dari fisheye hingga telephoto. Contoh: Canon 800mm f/5.6L IS, Sigma 35mm f/1.4.

Apa Itu Lensa Zoom?

Di sisi lain, lensa zoom memiliki focal length yang bervariasi dalam satu lensa. Dengan memutar zoom ring pada lensa, Anda akan menggerakkan elemen optikal di dalam lensa yang nantinya akan memberikan sudut area pandang (field of view)  yang berbeda.

Ini artinya, Anda bisa membuat objek tampak lebih besar atau lebih kecil hanya dengan memutar zoom ring pada lensa zoom Anda.

Lensa zoom memiliki 2 spesifikasi yang mewakili 2 focal length paling extreme yang bisa Anda dapatkan, focal length terpendek & focal length terpanjang, misal: lensa 70-200mm. Lensa semacam itu bisa digunakan seolah kita sedang pakai lensa fix 70mm, 200mm, dan semua focal length diantaranya.

Anda juga akan sering melihat tulisan f/3.5-5.6 di lensa zoom pada umumnya. Angka itu merupakan nilai maksimal aperture yang bisa Anda dapatkan dari lensa-lensa tersebut. Sebagai contoh, lensa Nikon 18-55mm f.3.5-5.6 akan memiliki aperture maksimum f/3.5 pada focal length terpedek yaitu 18mm, dan pada saat digunakan di focal length terpanjang yaitu 55mm, aperture akan terbatas di f/5.6.

Namun perlu dicatat juga, ada lensa zoom yang kelas profesional (dan mahal banget) yang punya maksimum aperture yang sama nggak peduli di focal length berapapun.

 

Keuntungan Menggunakan Lensa Fix

Jadi, kenapa sih kita butuh lensa dengan focal length yang udah fix? Berikut beberapa alasannya:

1. Biaya

Banyak sekali lensa fix modern yang rata-rata harganya lebih murah daripada lensa zoom. Lensa 24mm f/2.8m bisa dimulai dari harga 2 jutaan, sementara lensa 24-70mm f/2.8 paling murahnya saja masih di angka 10 jutaan. Bahkan jika Anda beli beberapa lensa fix seperti 24mm, 35mm, dan 85mm bisa jadi masih lebih murah dibandingkan beli 24-70mm tadi.

Untuk inilah banyak fotografer banyak yang memilih menggunakan lensa fix, karena harganya. Bagi mereka, masih mending beli beberapa lensa fix tapi bagus daripada beli lensa zoom yang agak murah tapi kualitas berkurang.

 

2. Ukuran dan Berat

Yang cukup mengejutkan adalah, beberapa fotografer yang masing “terbilang baru” sering menanyakan tentang lensa 70-200mm f/2.8. Bener banget kalau lensa ini tajam sekali, punya autofocus yang ciamik, dna cukup tahan di kondisi extreme. Namun, lensa ini jelas-jelas buesar banget. Dan kalau Anda ngebawa ini di nggantung di leher Anda, bisa-bisa leher Anda juga sakit semua loh.

Anda pasti sudah bisa paham bahwa lensa zoom yang segedhe ini tidak untuk semua orang, mengingat booming kamera ringan a la mirrorless. Nah, lensa fix di sisi lain menawarkan kepraktisan baik dari sisi berat maupun ukuran.

Percaya atau nggak percaya, mereka yang punya lensa fix lebih sering pakai kameranya daripada yang punya lensa tele sepanjang ini loh!

 

3. Sebagai Metode Belajar Para Fotografer

Banyak fotografer yang percaya bahwa situasi dimana kita harus nge-zoom dengan cara lawas (ya jalan maju-mundur) adalah cara terbaik untuk belajar tentang komposisi dan angle foto. Banyak juga yang berpendapat bahwa menggunakan lensa fix akan mempercepat pengetahuan si fotografer dalam memaksimalkan lensa dan situasi “seadanya”.

Namun terlepas dari soal pendapat ini, Anda harus menyempatkan diri mencoba kedua tipe lensa ini, ya lensa fix, ya lensa zoom.

 

4. Bokeh

OK, jujur aja, alasan pertama kita mau beli kamera digital adalah supaya background foto kita bisa ngeblur, ya kan?

Nah, dalam hal ini lensa zoom agak kesusahan mengejar spesifikasi lensa fix. Aperture maksimum yang ada pada lensa zoom pada umumnya adalah f/2.8. Sementara lensa fix punya aperture f/1.4 aja udah cukup umum, malah ada yang sampai f/1.1. Aperture/bukaan yang lebih lebar ini nggak hanya memberikan kemampuan kamera kita untuk menangkap lebih banyak cahaya sehingga bisa lebih fleksibel, tapi juga ngasih kita efek backgorund blur yang lebih bagus lagi, better bokeh.

 

5. Low-Light

Masih sehubungan dengan penjelasan poin sebelumnya, aperture yang lebih lebar akan memberi kesempatan cahaya masuk ke sensor 2-3x lipat dari biasanya.

Apa sih yang bikin lensa fix bisa punya aperture yang lebih lebar?

Jawabannya karena nggak ada kebutuhan buat zooming, desain optik jerohan lensa fix lebih simple dibandingkan lensa zoom. Hal ini memungkinkan lensa fix untuk memiliki aperture lebar tadi, bahkan hingga f/1.1.

 

Keuntungan Menggunakan Lensa Zoom

Nah kalau semua-semua adalah bagusnya lensa fix, tentunya nggak ada yang beli lensa zoom dong. Terlepas dari soal berat dan ukuran, lensa zoom tetap cukup populer di kalangan fotogrefer masih diangan “yang paling nyaman”.

Ada beberapa area dimana lensa fix nggak bisa ngalahin lensa zoom, berikut adalah area-area tersebut:

 

1. Serbabisa

Alasan yang paling jelas buat beli lensa zoom adalah karena ke-serbabisa-annya. Lensa zoom akan menjadi aset yang sangat berharga saat fotografer harus dihadapkan dengan situasi yang bervariasi — Anda bisa beralih dari wide angle ke telephoto dalam sekejap hanya dengan memutar zoom ring.

Yang paling sering menggunakan lensa ini adalah fotografer landscape & fotografer wildlife. Kenapa? Karena untuk landscape, untuk ganti posisi supaya bisa dapet angle yang lebih enak, bisa-bisa perlu pindah-pindah pakai mobil. Sementara untuk fotografer wildlife jelas nggak bisa dekat karena akan mengganggu habitat dan aktivitas di alam liar.

 

2. Image Stabilization

Lensa zoom modern menawarkan 3-4 stop sistem image stabilization, baik itu Image Stabilization (IS) punya Canon, Vibration Reduction (VR) a la Nikon, Optical Stabilization punya Sigma, maupun Vibration Compensation yang ada pada lensa Tamron.

Hal ini memungkinkan Anda menggunakan shutter speed rendah (lebih lama) saat kondisi low-light karena lensa zoom dengan stabilization akan membantu meminimalisir goyangan.

Sebenarnya image stabilization tidak terbatas pada lensa zoom saja. Beberapa lensa fix keluaran terbaru juga sudah memiliki sistem ini, seperti lensa Canon 35mm f/2 IS. Dan yang perlu diingat lagi adalah sistem stabilization ini bisa ada di lensa, dan bisa juga ada di bodi kamera seperti Sony A7 yang menggunakan stabilizer bebasis sensor.

 

4. Portabilitas

Secara fungsi, satu lensa zoom bisa menggantikan 2-3 lensa fix. Karena keserbabisaanya itu, bisa jadi Anda nggak perlu bawa banyak lensa, nggak perlu khawatir bawa tas besar dan nggak perlu khawatir keamanan lensa-lensa yang nggak dipasang di kamera.

Memang benar kalau satu lensa zoom akan lebih berat dibanding satu lensa fix. Tapi kalau Anda berada di situasi yang butuh banyak varian field of view, maka satu lensa fix akan lebih ringan dibanding beberapa lensa fix yang perlu Anda bawa.

 

Kesimpulan

Banyak fotografer yang masih bingung harus beli lensa fix atau lensa zoom di awal karirnya. Dan seperti yang dijelaskan di blog kali ini, masing-masing tipe lensa memiliki keuntungan sendiri-sendiri.

Memang butuh waktu untuk mengerti gaya foto seperti apa yang lebih cocok dengan kita nantinya. Beberapa lebih suka punya lensa yang bisa dipakai di berbagai situasi seperti lensa zoom, beberapa ada yang suka lensa fix dan nggak mau pegang lensa zoom sama sekali.

Namun tenang, seiring berjalannya waktu dan mengeksplor style fotografi Anda sendiri, nantinya tidak penting lensa mana yang akan Anda beli, yang penting jangan sampai kreativitas Anda berhenti…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *