IGTV: Komposisi Video untuk Format Vertical (Part 2)

Baik, setelah sebelumnya kita ngebahas gimana IGTV bisa jadi peluang baru buat para videografer, kali ini kita akan ngomong-ngomong soal cara membuat video yang joss di format vertical: KOMPOSISI.

Bicara soal komposisi video, kita selama ini sudah sangat terbiasa dengan format horizontal. Scene-scene seperti ‘establishing shot’ yang menunjukkan lokasi, kemudian scene ‘two shot’ dimana ada dua subjek dalam satu frame, lalu ada juga scene yang lebih menunjukkan kejadian di background, semua ini biasanya bisa dengan mudah kita lakukan dengan video fomat horizontal. Lalu, bagaimana dengan format vertikal?

Well, selamat datang di dunia antah berantah dimana semua yang saya sebutkan tadi jadi lebih susah dilakukan ?.

 

Tips Komposisi #1: Tetap Gunakan Wide-Lens

Tips pertama adalah meskipun format perekaman beralih dari landscape ke portrait, jangan ragu untuk menggunakan lensa wide. Cukup pastikan saja bukan lensa yang terlalu wide (untuk menghindari distorsi), paling kecilnya bisa lensa dengan focal length 18mm atau lebih amannya lensa 25mm.

Karena meskipun kita akan merekam dengan format vertikal, kita masih membutuhkan sudut pandang yang lebih lebar supaya informasi di background bisa masuk ke komposisi vertikal kita. Baru ketika kita ingin merekam close-up, kita bisa menggunakan lensa normal atau bahkan lensa tele.

Tips Komposisi #2: Negative Space

Beda yang paling jelas antara format horizontal dan vertikal adalah soal ‘penuh nggaknya’ sebuah frame. Sangat mudah sekali bagi format vertikal untuk membuat frame jadi kelihatan penuh. Sementara di format horizontal, kecuali kita memang benar-benar ingin menunjukkan detail, jarang sekali komposisi video terlihat ‘penuh’.

Hal ini berimbas pada komposisi kita.

Jangan sampai karena frame yang terlalu penuh, kita jadi gagal mengarahkan pandangan audience ke subjek utama. Kita bisa saja menggunakan leading lines (garis semu dari objek-objek pendukung) yang mengarah ke subjek, namun tetap saja jika frame kita terlalu mampet maka mata audience akan lebih cepat lelah.

Lalu bagaimana solusi untuk mengarahkan pandangan audience tanpa harus membuat frame terlalu penuh?

Perbanyak area kosong.. Atau yang biasa kita kenal dengan ‘negative space’

Ketika subjek kita dikelilingi dengan area kosong, area yang tidak terlalu banyak detil, area yang tidak terlalu menyita perhatian, maka secara tidak langsung kita sudah mempermudah audience menemukan subjek utama kita. Audience akan lebih mudah mencerna adegan yang ditampilkan.

Rule of third tetap masih bisa jalan, cukup pastikan ada cukup negative space pada scene kita.

 

Tips Komposisi #3: Gunakan Komposisi 50:50

Kalau udah bilang komposisi pasti yang mudah diingat adalah “Rule of Third”. Namun khusus untuk format vertikal, komposisi “separuh” atau “50:50” sepertinya lebih populer dan lebih efektif.

Alasannya masih sama dengan poin kedua, yaitu soal negative space atau area kosong. Sebenarnya kita tidak harus memperbanyak area kosong secara signifikan, yang penting cukup. Namun jika kita berhasil membuat area kosong sekitar 50% dari frame, dan 50% nya lagi untuk subjek, maka komposisi vertikal kita akan lebih powerful.

  

Apakah harus kosong? Tidak, komposisi 50:50 ini bisa Anda gunakan untuk menampilkan dua subjek, atau dua pesan dalam satu frame. Jadi tidak harus separuh ada subjeknya, separuhnya lagi kosong.

Hanya saja, komposisi 50:50 di sini kebanyakan akan dibagi menjadi atas dan bawah, mengingat akan lebih susah kalau subjek-subjek Anda berdampingan di frame vertikal seperti ini.

 

 

Tips Komposisi #4: Gunakan Camera Movement

Bagaimana kalau kita ingin memberikan kesan apa yang terekam di kamera sebenarnya masih luas, baik di samping kiri maupun kanannya?

Tenang itu masih bisa dilakukan kok, kalau pakai format horizontal memang tidak perlu repot, kita tinggal pakai lensa wide udah kelar urusannya. Nah kalau menggunakan format vertikal, kita bisa mengakalinya dengan menggunakan camera movement. Pergerakan dari kiri ke kanan atau sebaliknya, dapat memberikan kesan bahwa audience sedang melihat satu scene yang luas.

via GIPHY

Nah, tapi hal ini juga ada masalahnya juga. Kalau Anda berencana merekam video vertikal menggunakan kamera (bukan smartphone) dan ingin mengaplikasikan pergerakan kamera dalam komposisi Anda, Anda tetap harus merekam dengan keadaan kamera dalam posisi landscape. Kenapa?

Karena saat ini belum ada stabilizer kamera yang support mode portrait, jadi kamera udah pasti dalam keadaan tidur. Jadi Anda harus merekam dalam kamera keaadan tidur namun menggunakan mindset bahwa hasil akhirnya nanti akan diedit menjadi video vertikal. Susah? Mungkin perlu dicoba sih.

So How?

Sebenarnya masih ada banyak tips soal komposisi pada video vertikal, namun 4 tips di atas mungkin termasuk yang paling esensial ya..

Ngomong-ngomong, ada juga beberapa hal yang mesti Anda hindari dalam komposisi vertikal:

1) hindari merekam scene dimana subjek utama terlalu jauh di belakang. Karena audience pasti langsung bingung apa yang harus dilihat, beda dengan format horizontal yang ketika tidak ada subjek pun kita masih bisa menikmati pemandangan di dalam frame.

2) hindari scene dimana subjek bergerak secara horizontal (kiri ke kanan misalnya) karena Anda harus ikut menggerakkan kamera untuk mengikuti arah gerakan mereka, untuk beberapa orang teralu banyak pergerakan kamera/background bisa memusingkan. Sebaliknya, gerakan subjek dari belakang ke depan (atau sebaliknya) malah disarankan.

Masih butuh inspirasi? Beberapa contoh komposisi berikut mungkin juga bisa membantu..:)

 

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *