Flash Kamera, Panduan Menggunakannya Di Fotografi (Part 2)

Sebelumnya kita sudah mulai berkenalan dengan apa itu flash, TTL flash dan penggunaannya. Di artikel kali ini akan membicarakan kelanjutannya, termasuk soal flash wireless dan jenis-jenis lampu untuk tambahan. Bisa disimak juga apa saja yang perlu diperhatikan dalam memilih flash sebelum membelinya.

 

Memantulkan cahaya flash dan menggunakannya off-kamera

Flash on-camera dibedakan menjadi dua: flash yang kepalanya bisa berputar atau ditekuk dan yang tidak bisa.

Bedanya, untuk flash yang tidak bisa ditekuk cenderung lebih compact tapi tentu saja kemampuannya tidak sefleksibel flash yang bisa digerak-gerakkan. Flash yang tidak bisa digerakkan itu mirip flash bawaan kamera. Hasilnya pun mirip-mirip yaitu cahayanya lurus ke depan dan terbatas. Kelebihannya hanya Anda bisa lebih mengontrolnya dibanding flash built-in kamera.

Sedangkan flash yang kepalanya fleksibel lebih mudah dikendalikan oleh fotografer. Flash ini biasanya punya tembakan cahaya yang cukup keras sehingga menghasilkan bayangan. Untuk memperhalusnya bisa dengan cara menekuk kepala flash dan menembakkan cahayanya ke dinding atau langit-langit. Cahayanya nanti akan menyebar sehingga jadi tidak terlalu keras, dan alhasil tidak ada bayangan.

Lebih bagusnya lagi, flash ini bisa dilepas dari kamera dan tetap bisa digunakan. Terserah Anda mau memakainya untuk angle seperti apa. Bisa digunakan secara wireless maupun pakai kabel, pastikan kabelnya kompatibel dengan kamera.

Jika Anda tidak ingin memegang flash dengan tangan, Anda juga bisa memasangnya di flash bracket untuk menempatkannya di samping atau bawah kamera. Bracket sendiri biasanya disambung ke kamera dari tripod dan bisa jadi alternatif yang bagus.

Kontrol Flash Wireless

Flash wireless bekerja dengan memakai trigger (pemicu) yang ada tiga jenis: infrared, radio dan optical.

Optical adalah flash yang akan langsung terpicu saat mendeteksi ada cahaya flash lain yang cukup kuat. Idealnya digunakan untuk kondisi dengan beberapa sumber cahaya karena flash yang menggunakan trigger optical (mata kucing, atau area yang biasanya merah di flash) baru mau nyala kalau ada cahaya dari flash lain.

Sedangkan infrared atau sistem radio juga menguntungkan karena tidak membutuhkan kabel dalam men-trigger beberapa flash. Jadi cukup transmitter dan receiver mengendalikannya. Flash akan dipasangin receiver yang nantinya akan bereaksi ketika transmitter yang dipasangkan di kamera memicunya. Dengan cara ini, Anda bisa men-trigger semua flash dengan settinganya masing-masing dalam sekali jepret.

Kalau Anda tidak punya cukup banyak receiver untuk masing-masing flash, semetara Anda tetap ingin agar flash dipasangkan off-camera, Anda bisa saja memasangkan satu receiver saja ke salah satu flash, sementara flash lain akan dipicu melalui sistem optical seperti penjelasan di atas. Selain itu beberapa flash sudah memiliki receiver infrared built-in jadi tidak perlu ada tambahan receiver.

Sistem pemicu inframerah mirip dengan metode optik, tetapi seperti namanya, ia menggunakan panjang gelombang inframerah untuk mengirimkan sinyal flash. Ini lebih menguntungkan daripada memakai trigger optik karena Anda tidak memerlukan flash lain untuk memicunya.

Remote controller inframerah berfungsi paling baik di indoor ketika tidak ada cahaya ambient yang mengganggu transmisi infrared. Receiver juga harus berada di garis pandang langsung dari pemancar inframerah.

Metode terakhir, dan yang paling canggih dari pemicu flash wireless, adalah melalui penggunaan pemancar radio dan sistem receiver. Remote radio memiliki keuntungan karena tidak bergantung pada optik dan tidak memerlukan garis pandang atau kondisi pencahayaan tertentu untuk berfungsi dengan baik. Mereka dapat beroperasi di berbagai saluran dan kondisi banyak fotografer bekerja bersamaan.

Keuntungan terbesar lainnya adalah beberapa sistem radio mengintegrasikan kompabilitas TTL menyeluruh yang memberikan koneksi langsung antara flash dengan kamera Anda untuk mengatur exposure flash.

 

Power Baterai Tambahan

Salah satu “keunggulan” flash on-camera adalah sumber daya energinya berasal dari baterai sendiri. Biasanya disuplai dari baterai AA yang gampang diganti. Tapi kekurangannya adalah AA tidak cukup untuk penggunaan durasi panjang karena flash memang rakus daya. Jadi lebih baik jika punya baterai external jika sering memakai flash.

Baterai external ini bentuknya compact bisa dikantongi, atau dipasang di sabuk celana, dan mudah diganti. Isinya adalah beberapa baterai AA yang di-bundling jadi satu sehingga lebih efisien.

 

Fitur lain yang perlu dipertimbangkan saat membeli flash

Beli flash itu juga sama seperti beli kamera alias harus teliti juga. Sama seperti kamera juga, beli flash itu tergantung kebutuhan untuk memotret, butuh GN seberapa, kestabilan cahaya krusial atau tidak, aksesoris tambahan lain, dll.. Sebaiknya disesuaikan juga dengan kamera yang bakal digunakan, apalagi jika memakai flash yang brand-nya yang beda dengan kamera, karena sistem TTL bisa jadi malah nggak jalan.  Selain itu perlu diperhatikan juga apakah flash perlu ketahanan ekstra seperti punya weather sealing atau tidak.

 

Aksesoris Flash dan Modifikasi Lampu

Cahaya flash tidak selama bagus dan bisa diakali dengan menembakkannya ke dinding agar lebih menyebar natural. Selain cara itu, bisa juga memakai alat bantu lho. Fungsinya memang untuk memodifikasi hasil pencahayaan dari flash.

Diffusers

Ini adalah aksesoris paling umum digunakan yang berupa kotak transparan putih yang dipasang di kepala flash. Fungsinya untuk memperlembut dan halus cahaya flash.

Mini Softbox

Sesuai namanya, mini softbox itu versi flash dari softbox yang biasa dipakai di lampu studio. Aksesoris ini membuat cahaya jadi lebih tersebar sekaligus lebih soft dan less shadow. Beda bentuk softbox akan menghasilkan pantulan berbeda di mata subyek yang difoto.

Bounce Card

Banyak flash yang sudah dilengkapi bounce card built-in tapi juga bisa dibeli terpisah. Fungsinya itu memantulkan cahaya agar yang ditembakkan ke depan tidak terlalu keras, melainkan mendapat hasil pantulan dari cahaya tadi, sehingga menciptakan sumber cahaya yang lebih luas dan lebih halus.

Grid dan Honeycomb

Grid dan Honeycomb menawarkan kontrol yang lebih baik dan hasil pencahayaan yang lebih “memusat”. Semakin kecil ukurannya maka semakin “terpusat” cahaya yang ditembakkan. Bentuk pola honeycomb (sarang lebah) membantu membagi penyebaran cahaya sehingga cahaya yang ditembakkan lebih terorganisir dan rata itu tadi..

Snoot

Jika Anda ingin cahaya yang lebih terpusat lagi dari Grid, Anda bisa menggunakan Snoot. Semakin panjang snoot maka semakin kecil lingkaran cahaya yang dihasilkan. Kombinasi snoot dan grid akan menghasilkan cahaya lebih keras, kontras, lebih luas dan bayangan yang lebih dramatis.

Extender

Extender pada flash bisa mengonsentrasikan cahaya yang keluar dari flash menjadi lebih terpusat dan lebih jauh ke depan. Konsepnya mirip dengan lensa telephoto tapi ini flash. Beda dengan Snoot yang membatasi cahaya, extender memantulkan cahaya sehingga meskipun sama-sama terpusat, cahaya dari flash akan lebih padat saat menggunakan extender.

Color Filter dan Gel

Tidak hanya sebaran cahaya, flash juga bisa diakali warna cahayanya memakai color filter dan gel. Flash sendiri cahayanya berwarna putih atau biasa disebut cahaya suhu 5000-6000K. Cahaya tipe ini kurang bagus untuk kondisi di bawah pencahayaan ruangan fluorescent atau tungsten karena adanya perbedaan warna. Itu bisa diatasi dengan menutup flash memakai gel berwarna. Biasanya ini dijual per pack dengan warna CTB (color temperature blue) dan CTO (color temperature orange) atau bahkan warna lainnya untuk menunjang kreativitas.

Ringlight dan Lighting Macro

Lampu tambahan sudah sering digunakan fotografer untuk mempercantik hasil pemotretan. Tipe lampu on-camera yang biasa digunakan bersamaan dengan flash biasanya berbentuk ring/lingkaran yang cocok untuk foto makro.

Ring light dipasangkan di bagian depan lensa dan menghasilkan sangat sedikit bayangan karena bentuknya yang seperti donat. Lampu ini jadi andalan untuk fashion photography namun hasil pencahayaannya cukup terbatas sehingga cocok untuk close up.

 

Kesimpulan

Flash adalah tambahan cahaya untuk fotografi dan bisa dimaksimalkan untuk menunjang hasil pemotretan menjadi lebih cantik lagi. Flash sendiri bisa memberikan dimensi dan tekstur pada subyek foto yang tidak bisa dilakukan pencahayaan alami.

Selain itu, flash on-camera juga praktis dan ringan untuk digunakan saat pemotretan. Flash jenis ini wajib dimiliki bagi fotografer karena kemampuannya yang sudah diulas tadi.

Sudah tertarik untuk membeli flash on-camera?

Related Post

2 thoughts on “Flash Kamera, Panduan Menggunakannya Di Fotografi (Part 2)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *