Checklist Komposisi Foto untuk yang Baru Belajar Fotografi

Siapa yang masih kesulitan menguasai komposisi dalam memotret?

Komposisi memang penting banget dalam fotografi dan gampang-gampang susah untuk menguasainya. Kalau dipikirin banget jadinya fotonya gak nge-feel, tapi kalau nggak dipikirin hasilnya ya tidak bagus.

Sebenarnya tidak terlalu susah kok asal Anda sudah menguasai benar basic-nya.

Nah, gimana biar bisa menguasai komposisi?

Hal pertama yang harus diingat adalah, skill meng-komposisi tidak terpengaruh dari mahal murah gear yang Anda pakai. Meskipun Anda hanya pakai kamera entry level tapi karena komposisinya bagus bisa jadi Anda dikira memakai kamera level profesional.

Komposisi adalah soal skill jadi banyaklah berlatih setelah mempelajari ilmunya.

 

Basic Komposisi dalam Fotografi

Sebelum melangkah lebih jauh perlu diingat hal yang paling mendasar yaitu setiap foto memiliki elemen yang berbeda jadi tidak bisa disamaratakan. Contohnya, Anda tidak bisa melakukan framing yang sama ketika memotret pemandangan dan street photography.

Pilihlah beberapa cara yang Anda rasa bagus hasilnya untuk dilakukan berulang-ulang. Kemudian bisa Anda tambahkan sedikit kreativitas ketika sudah benar-benar menguasainya. Lakukan pelan-pelan, jangan terburu-buru ingin segera bisa.

 

1. Apakah garis horisonnya sudah lurus?

Pastikan garis horison benar-benar lurus saat Anda mengintip dari viewfinder.

Jadi luangkan waktu untuk mengatur kamera agar benar-benar sejajar. Dibutuhkan usaha ekstra untuk memotret panorama, timelapse, video dan hal-hal serupa. Sedangkan untuk penggunaan untuk memotret yang umum dapat dengan mudah diedit di post-production.

Dalam foto ini menunjukkan horizon yang miring ke kiri sekitar 3 derajat miring ke kiri, cukup untuk membuat Anda merasa gregetan.

 

2. Apakah subyeknya kuat dan jelas dalam foto?

Ada konsep soal komposisi yang terlihat jelas seperti pada contoh nomor 1 di atas. Tapi ada juga yang butuh untuk dilihat berulang kali dulu seperti contoh di bawah ini.

Jika fotonya seperti ini maka fokusnya yang mana?

Anda pasti kesulitan memutuskan karena tidak ada satu obyek yang menonjol dibanding lainnya. Semua elemen dalam foto ini saling bersaing memperebutkan fokus Anda. Mau mulai dari yang mana nih?

 

3. Apakah tepi frame bersih?

Apakah ada yang masuk ke frame yang mengalihkan perhatian? Adakah elemen dari gambar yang mengarahkan mata keluar dari frame yang dapat diposisikan lebih baik?

Melihat semua sisi frame saat memposisikan bidikan kamera akan sangat membantu lho. Biasanya fotografer terlalu terfokus dengan subyek di tengah frame sehingga tidak melihat image keseluruhan yaitu frame-nya juga.

Dengan begitu Anda bisa memastikan apakah frame-nya bersih dari “gangguan” yang bisa mengalihkan perhatian viewer. Jika ada yang mengganggu, Anda bisa mengalihkan arah bidikan tanpa perlu terlanjur memotret, karena akan menguras tenaga untuk mengeditnya di pasca produksi.

Dalam foto ini ada daun dan kuncup bunga di sisi sebelah kiri yang memecah fokus viewer saat melihat subyek utama yaitu si bunga ungu.

 

4. Apakah backgroundnya bersih?

Apakah elemen pengganggu itu bisa dihilangkan dengan memindah atau mengganti angle kamera?

Ini adalah langkah selanjutnya setelah nomor 3 di atas tapi dengan usaha lebih banyak.

Ya, jika ada yang mengganggu di background, misalnya mobil sedang parkir atau rumah, yang dirasa menganggu estetika foto  maka Anda harus menggeser angle kamera sekreatif mungkin.

Anda juga harus memperhatikan semua elemen background dengan detil. Apakah langitnya tidak terlalu terang? Apakah warnanya sudah pas? Pastikan semuanya balance ya.


Foto ini memfokuskan rumah bergaya kolonial yang indah dengan gangguan ada rumah sakit dan sekolah modern di belakangnya. Sehingga framing-nya sulit agar elemen penganggu itu tidak masuk dan merusak kesan klasik rumah tersebut.

 

5. Apakah latar depannya sudah rapi?

Apakah kamu memotret pemandangan yang mungkin ada dedaunan atau batang pohon di bagian depan (foreground) foto? Apa perlu dan bisa dibersihkan?

Meski elemen tersebut tetap natural untuk masuk frame, karena ini memang nature photography, tapi tetap harus menerapkan aturan basic komposisi. Jadi pertimbangkan apakah elemen di foreground membantu atau malah mengganggu subjek utama Anda. Jagalah agar frame tetap bersih dari gangguan, bahkan Anda bisa menatanya agar terlihat cantik di foto.

Dalam foto ini tampak kerucut dan ranting yang berantakan di latar depan. Menge-blur cukup menolong agar fotonya jadi cantik.

6. Posisi orang-orang di dalam foto

Apakah ada cabang pohon nongol di atas kepala mereka? Apakah ada anggota tubuh yang terpotong oleh frame dan terihat janggal?

Memang yang jadi masalah saat memotret di outdoor adalah memastikan background apakah mendukung subyek utama.

Apakah kamera lurus? Apakah orang-orang memicingkan mata ke matahari? Apakah pencahayaannya bagus? Apakah semua bagian tubuh subyek berada di dalam frame? Apakah setiap orang melihat ke arah yang sama atau berinteraksi dengan cara yang diinginkan?

Kucing ini terlihat sangat bagus di foto karena tatapan matanya yang tajam dan background pas, namun bagian cakarnya terpotong. Itu tidak bagus.

7. Eye contact

Ketika memotret sekumpulan orang, apakah kita perlu melakukan kontak mata dengan semuanya?

Sudah sering terjadi ketika memotret sekumpulan orang maka mereka akan langsung melihat ke kamera, tapi bisa jadi ada saja yang tidak melihat ke kamera. Jadi pastikan mereka semua fokus melihat ke Anda sebagai fotografer atau ke kamera, bisa dengan mengajak mereka berinteraksi.

8. Posisi kamera

Apakah kamu berada di angle atau ketinggian yang tepat untuk kompsisi terbaik?

Karena berada di posisi eye level dengan subyek foto akan membuat perbedaan besar pada hasil pemotretan lho. Angle kamera benar-benar mempengaruhi dalam memotret orang, terutama di street photography.

Anda bebas menunjukkan berbagai macam cerita dan membangun mood dalam street photography lewat banyak angle yang kreatif. Tidak melulu eye level, Anda bisa bereksperimen dengan angle dari bawah atau atas sekalian.


Foto ini tampak mengesankan karena dipotret eye level dengan angsa. Jika angle-nya naik sedikit saja maka liukan leher si angsa tidak akan tampak jelas.

9. Point of focus

Sudahkah fokus ke mata saat memotret orang atau hewan? Apakah ada bias cahaya di matanya?

Jika subyek foto memiliki mata maka paling penting untuk memfokuskan pada mata. Wajah orang, burung dan binatang itu memiliki dimensi sehingga mudah untuk memfokuskan di hidung atau bibir dan masih banyak lainnya lagi.

Ada trik untuk membuat foto Anda lebih “hidup” yaitu dengan memposisikan angle kamera yang menangkap refleksi cahaya yang jatuh tepat di iris mata yang gelap. Efek ini bakal kece banget saat memotret binatang yang memiliki mata besar.

Saking indahnya, fotografer pun sering menciptakan sendiri efek tersebut dengan memakai ring light saat memotret fashion.

Dalam foto ini bagian hidung tajam tapi matanya sedikit blur jadi hasilnya tidak terlalu bagus.

 

10. Apakah sudah menggunakan Rule of Thirds (aturan bagi tiga)?

Rule of Thirds alias aturan pembagian tiga pada bidang foto sebenarnya adalah guideline wajib, bukan sekedar tips.

Jadi kuasailah dengan baik, terutama jika Anda baru mulai mendalami fotografi.

Ingat-ingatlah setiap kali memegang kamera. Jika sudah menguasainya maka membuat foto yang indah bakal semudah Anda bernafas, tidak perlu berpikir rumit.

Namun terlepad dari itu, Anda masih harus mempertimbangkan apakah subjek yang Anda foto memang lebih pas menggunakan Rule of Third atau tidak.

Subjek dalam gambar ini sudah cukup di tengah, tetapi jika Anda memotongnya menggunakan Rule of Thirds, gambarnya juga tidak pas.

 

11. Apakah Anda bisa mengira-ngira skala ukuran yang benar saat memotret pemandangan?

Gunung yang besar akan tampak gagah atau cantik dipotret. Tapi bisa jadi hanya tampak biasa saja hanya karena yang memotret tidak memiliki sense dalam memperkirakan ukurannya.

Salah satu caranya adalah dengan menggunakan latar depan untuk menyetabilkan gambar dan memberikan skala dan perbandingan bagi obyek besar di belakangnya. Beberapa fotografer malah suka menggunakan diri mereka sendiri sebagai alat bantu untuk mengukur skala.

 

12. Bagaimana arah mata menikmati foto Anda nantinya?

Dimana mata audience nanti akan memulai? Dimana mata audience nanti akan berhenti?

Apa yang ada di dalam foto yang benar-benar menarik? Adakah elemen menarik lain yang mata audience akan melihat setiap sudut foto? Apa semua elemen tadi memiliki kontras yang mencolok? Adakah elemen lain yang membuat mata audience keluar dari foto nantinya?

13. Pilihan Lensa

Apakah lensa yang Anda gunakan berefek pada komposisi foto secara negatif atau positif Apakah ganti lensa akan berpengaruh?

Menggunakan lensa pilhan pribadi bisa jadi memang kalau nggak alasan teknikal, ya alasan kreatifitas. Terkadang ada alasan valid untuk menggunakan lensa tertentu seperti: menggunakan lensa tele untuk foto burung yang sedang terbang, dan menggunakan lensa macro untuk foto bunga. Lensa tele akan mengkompres foto sehingga semuanya terkesan dekat, sementara lensa wide memberikan field of view yang lebih luas dengan resiko adanya distorsi.

Dibalik faktor-faktor tadi, pasti sepenuhnya adalah alasan kreatifitas.

Lensa yang berbeda akan membuat seluruh badan burung ini bisa berada di dalam frame.

14. Less is more

Apa yang benar-benar dibutuhkan ada di dalam frame? Elemen apa saja yang bisa absen dari frame?

Kesalahan paling lazim pemula adalah memasukkan terlalu banyak elemen ke dalam foto. Hasilnya ya berantakan dan membingungkan karena jadi tidak tahu mana fokus yang harus dilihat.

Kadang foto yang “rame” juga ada keuntungannya untuk street photography tapi tetap, less is more. Subyek utama yang kuat dan makin sedikit gangguan adalah kombinasi yang aesthetic meski butuh waktu untuk belajar menatanya di dalam frame sehingga cantik dilihat.

Contohnya foto ini terlihat berlebihan dengan banyaknya elemen yang masuk dan tidak jelas subyek utamanya yang mana. Masih cantik dipandang sih tapi apakah komposisinya sudah efektif?

15. Apakah fotonya sudah tajam?

Foto seperti apa yang Anda inginkan?

Tidak semua foto harus tajam 100% kok. Anda bisa menggunakan aperture secara kreatif dengan memainkan depth of field atau gerakan kamera seperti panning atau malah blur sekalian. Semuanya tergantung kreativitas tiap fotografer.

Shutter speed yang sedikit lebih pelan akan membuat efek ombak bergerak lembut.

Harus banget ya ini menghafalkan 15 poin di atas?

Nggak harus kok, cukup ambil beberapa poin dan aplikasikan sesuai dengan style memotret Anda. Coba selalu ingat poin tersebut setiap kali Anda memotret, lama-kelamaan nanti Anda akan terbiasa hingga tidak perlu memikirkannya lagi.

Ingatlah, latihan adalah kunci.

Source: Digital Photography School, Photo by: Stacey Hill

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *