Canon EOS 1500D & EOS 3000D, dan bedanya dengan 1300D

Canon EOS 1500D adalah salah satu dari 2 kamera entry-level yang baru saja diperkenalkan Canon pada 26 Februari lalu untuk menggantikan EOS 1300D.

Didesain untuk pemula yang ingin mendapatkan foto-foto yang lebih bagus daripada smartphone, 1500D dan saudaranya yang lebih murah, si 3000D, sudah hadir dengan Wi-Fi, resolusi video Full HD 1080p, dan sudah bisa merekam hingga 30fps. Keduanya juga bisa digunakan untuk continous/burst mode dengan kecepatan 3 frames/second. Selain itu, masing-masing sudah dibantu dengan 9 titik autofocus untuk pengoperasian yang lebih sederhana.

Secara umum, 1500D mendapatkan upgrade minor dari pendahulunya, 1300D. Yang jadi pembeda utama adalah ukuran resolusi fotonya yang sekarang jadi 24MP. Selebihnya, komponen utama seperti prosesor DIGIG 4+ masih sama, serta format file RAW yang digunakan juga masih CR2 (bukan CR3 seperti yang diperkenalkan Canon pada EOS M50 yang lalu).

Sementara untuk 3000D, secara resolusi masih dibawah 1500D karena masih mengusung resolusi bawaan dari 1300d, yaitu 18MP. Namun, jika 1500D dianggap mengalami upgrade, maka bagi beberapa orang pasti akan berpendapat kalau 3000D malah degrade. Hal ini tidak lain dikarenakan lebih kecilnya monitor LCD yang ada di 3000d, nggak adanya speaker, dan absennya dioptric adjustment.

Note: dioptric adjustment adalah dial yang biasanya ada di dekat viewfinder. Fungsinya adalah bagi pengguna kamera yang penglihatannya kurang normal seperti minus atau plus, maka dial ini bisa digunakan untuk menyesuaikan tampilan di viewfinder supaya lebih fokus.

Selain itu, mount lensa pada 3000D dikabarkan terbuat dari plastik, bukan terbuat dari metal seperti pada DSLR umumnya. Plus, built-in flash juga perlu ditarik terlebih dahulu, bukan yang model pop-up seperti kamera-kamera modern akhir-akhir ini. Menurut Canon, hal ini disesuaikan untuk pengguna DLSR pertama kali sehingga mereka bisa mengenal konfigurasi pada DSLR.

Anyway, berikut adalah tabel fitur-fitur penting dari 3 kamera tersebut:

EOS 1500D EOS 3000D EOS 1300D
Sensor 24.1-megapixel APS-C CMOS

18-megapixel APS-C CMOS

Processor

DIGIC 4+

ISO  range

100-6400 (expandable to 12800)

Video

Full HD 1080p video up to 30fps

Continuous shooting

3 fps

AF system

9-point autofocus

Monitor 3-inch TFT with 920,000 dots 2.7-inch TFT with 920,000 dots 3-inch TFT with 920,000 dots
Wi-Fi Wi-Fi plus NFC connectivity Wi-Fi only Wi-Fi plus NFC connectivity
Ease-of-use features

Scene Intelligent Auto mode, Creative filters

Battery/capacity (shots/charge)

LP-E10 / 500 with OVF

Dimensions 129.0 x 101.3 x 77.6 mm 129.0 x 101.6 x 77.1 mm 129.0 x 101.3 x 77.6 mm
Weight (with battery & card) 475 grams 436 grams 485 grams

Fitur-Fitur Utama

Bicara soal sensor APS-C 24MP, Canon sebelumnya sempat memperkenalkan sensor dengan resolusi ini pada EOS 77D. Namun pada 77D, resolusi 24MP itu disandingkan dengan prosesor DIGIC 7, sementara pada 1500D dan 3000D ini masih menggunakan DIGIC 4+. DIGIC 4+ ini sudah ada sejak tahun 2014, dan seringkali dipasang pada kamera digital yang sifatnya point & shoot.

Kecepatan prosesor inilah yang membatasi kemampuan burst mode pada 1500D dan 3000D hanya 3 frame/second dan resolusi video Full HD 1080p hanya di 30fps. ISO bawaan juga berada di range 100 – 6.400, masih di extend hingga 12.800.

Meski begitu, duo kamera ini sudah dilengkapi dengan Wi-Fi dan NFC yang memungkinkan kita mengontrol kamera via aplikasi smartphone Canon Camera Connect, yang mana sudah available untuk Android dan IOS. Di dalam app itu udah ada deskripsi masing-masing mode shooting yang bakalan keluar ketika mode-mode tersebut dipilih, ini akan membantu pengguna untuk memaksimalkan kameranya. Untuk soal filter bawaan, masih belum beranjak dari 4 filter yang ada sejak jaman 1200D: Grainy B/W, Soft Focus, Fish-Eye, Toy Camera dan Miniature.

Kemampuan video 1500D secara garis besar masih sama dengan model sebelumnya, dan masih layaknya DSLR pada umumnya. Anda hanya bisa merekam video saat live view nyala, video akan direkam dalam format MOV dengan kompresi yang lagi trend H.264 serta perekaman suara yang menggunakan Linear PCM.

Movie resolution Frame rates Bit rate Recording time on 8GB card
1920 x 1080 25 fps Approx. 46Mbps 22 minutes
1920 x 1080 24 fps Approx. 46Mbps 22 minutes
1280 x 720 50 fps Approx. 46Mbps 22 minutes
640 x 480 25 fps Approx. 11Mbps 84 minutes

Lama perekaman maksimal sebuah video adalah 29 menit 59 detik, atau ketika dalam satu video ukuran filenya mencapai 4GB, setelah itu perekaman pasti berhenti. Menekan tombol liveview lagi akan merekam video baru, bukan melanjutkan yang sebelumnya. Baterai yang ter-charge penuh harusnya support hingga 30 menit perekaman video.

Ketika mode movie pada mode dial digunakan, shutter speed, aperture, dan ISO akan tersetting secara otomatis. ISO akan terbatas sampai 6.400 pada mode ini, namun pengguna masih bisa menambahkan/mengurangi kompesasi eksposure dengan menekan tombol AV +/-.

Terlepas dari itu, pada menu tersedia settingan movie exposure dimana pengguna bisa merubah aperture, shutter speed, dan ISO secara manual. Menekan tombol flash juga memungkinkan merubah ISO saat mode video.

Suara yang masuk dalam video direkan secara mono, dan tidak ada jack untuk mikrofon eksternal.

Overall,

1500D dan 3000D adalah pengganti yang fair untuk 1300D. Meskipun tidak banyak pembaharuan selain soal resolusi 24 Megapixel, tapi soal umur produksi juga cukup penting (mungkin 1300D diangap terlalu lama kali ya sama Canon).

Masih dengan target first time user, 1500D dan 3000D ini memang cocok banget untuk mereka yang sebelumnya belum pernah menggunakan DSLR. Segala macam mode dan pengaturan setting kamera sudah ada di sini. Untuk ukuran DSLR hemat, dua kamera ini memang worthy kok!..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *