Bikin Foto Keluarga Lebih ‘Hidup’, Begini Caranya!

Momen berkumpul dengan keluarga, apalagi keluarga besar saat Lebaran, tentu bawaannya ingin foto bersama terus. Urusan foto keluarga atau rame-rame tak jarang jadinya tricky. Asyik foto-foto eh baru belakangan menyadari hasilnya tidak bagus padahal momennya tidak bisa diulang.

Salah satu yang bikin gemes dari foto keluarga adalah kurang terlihatnya kehangatan karena pose dan eskpresi yang kaku. Kita biasanya otomatis langsung mendadak kaku saat mendengar fotografer mengatakan “1, 2, 3” saat kamera menjepret. Apakah itu salah?

Biar gak kejadian seperti itu, yuk simak tips menjepret foto keluarga yang bagus!

Pertama ingatlah hal berikut ini sebelum memotret.

 

Tunjukkan keakraban Keluarga

Penting untuk mengetahui hubungan keakraban tiap keluarga sebelum difoto. Bukan sekedar nama dan usia tapi bagaimana mereka berinteraksi baik yang dewasa maupun anak-anak. Jadi anda bisa tahu apakah mereka lebih cocok berfoto dengan gaya tradisional yang kaku atau dibuat semi candid.

Jangan “mengintimidasi”  saat memotret keluarga jumlah besar. Ikuti saja dinamika mereka. Jika memiliki hewan peliharaan, tidak ada salahnya malah memasukkan sekalian ke dalam foto.

 

Jangan Buru-Buru Memotret

Tak perlu buru-buru langsung melakukan pemotretan. Agar tidak nervous lalu hasilnya kaku, berilah jeda santai sebelum pemotretan dilakukan bersama. Lakukan pemanasan dengan meluangkan waktu untuk mengobrol ringan atau jalan-jalan sebentar sambil memotret iseng hingga merasa nyaman.  Lagipula anda jadi bisa lebih longgar melakukan persiapan kamera.

Kembali lagi, dengan lebih mengenali anggota keluarga maka bisa mendapatkan foto yang bermakna.

 

Buatlah Pemotretan Berjalan Menyenangkan

Inilah momen krusial dalam pemotretan keluarga. Membuat semuanya tidak tegang di depan kamera, apalagi jika ada anak-anak yang ikut difoto. Jangan batasi anak-anak dengan biarkanlah mereka bermain-main. Dengan mood yang bagus tentunya akan lebih mudah diarahkan.

Mengatur pose memang diperlukan tapi tidak melulu harus begitu. Sebagai fotografer tetap lakukan candid di sela-sela pemotretan untuk mendapatkan foto interaksi yang natural.  Tentunya sangat disayangkan jika foto yang dihasilkan tampak dingin di momen yang seharusnya tampak menyenangkan.

Lalu bagaimana dari segi teknis pemotretan?

Apakah ada perbedaan gear atau teknik dalam memotret keluarga atau grup?

 

Sebenarnya tidak banyak berbeda dari teknik memotret pada umumnya, hanya saja lebih mengatur pose untuk foto grup.

1. Usahakan gunakan tripod

Memakai tripod untuk memotret grup memiliki keuntungan dari segi teknis. Tapi sebenarnya tidak hanya itu sisi positifnya.

  • Tripod membuatmu bergerak lebih pelan karena biasanya, apalagi fotografer pemula, anda langsung main jeprat jepret tanpa memikirkan detil ISO atau white balance, dsb. Dengan memasang kamera di tripod maka anda akan lebih aware untuk lebih detil mengecek settingan dan me-review hasil jepretan apakah ada yang perlu diperbaiki.
  • Kamera di tripod membuat anda tidak melulu fokus ke viewfinder. Lepas perhatian dari kamera dan ajaklah berinteraksi. Bagaimanapun yang anda potret adalah manusia yang lebih nyaman berinteraksi dan cenderung nervous di depan kamera.

 2. Memotret dengan mode manual

Mungkin anda berpikir memotret dengan mode manual akan merepotkan, apalagi inginnya jeprat jepret. Namun itu justru dianjurkan karena settingannya akan lebih konsisten dibanding mode otomatis.

Saat anda memakai mode otomatis maka settingan bisa berubah-ubah tiap foto. Itu akan menyulitkan saat proses editing karena perbedaan yang drastis di tiap foto dari segi lighting, noise atau saturasi warna.

Gunakan setting manual yang bisa anda ubah sendiri saat pindah lokasi pemotretan. Jadi hasilnya akan sama selama satu sesi pemotretan.

3. Kunci fokusnya atau gunakan fokus manual

Setting kameramu dalam posisi fokus di-lock, gunakan back button focus atau malah fokus manual. Dengan begitu maka fokusnya tidak akan berubah dari jepretan satu ke lainnya. Jika anda menggunakan tombol shutter untuk fokus dan seseorang bergerak sedikit saja maka fokus otomatis tajam ke background.

Bonus tips: Jika kamera anda bisa untuk merekam video malah semakin bagus fokus manualnya. Nyalakan Live View jadi anda bisa melihat hasil foto di screen. Ketuk zoom dua kali maka foto anda akan zoom in tapi lensanya tidak. Jadikan itu sebagai review untuk mengatur setting fokus manual di pemotretan selanjutnya.

 4. Tata Pose Grup dengan Posisi Kepala Tidak Garis Lurus

Ya, buatlah foto grup tidak boring dengan menata orang berjajar jadi garis lurus. Aturlah posisi lebih bervariasi, ada yang duduk dan berdiri, dan gunakan properti di sekitar yang bisa memberikan kesan dinamis. Tidak mesti duduk dalam garis lurus juga lho.

5. Tak perlu melulu berdiri tegak

Salah satu yang bikin foto grup terlihat kaku dan tidak natural adalah posenya yang berdiri tegak. Jangan ragu untuk mengarahkan mereka berpose lebih santai. Jika perlu biarkanlah mereka memasukkan tangan ke saku celana, bertumpu satu kaki dengan tangan di pinggang, sedikit mengangkat kaki saat pose duduk. Dengan begitu hasilnya akan lebih natural dan dinamis.

6. Biarkan anak-anak bermain-main dan ajak bercanda

Orangtua biasanya akan menyuruh anak mereka berpose duduk manis dan tersenyum saat difoto. Alhasil anak-anak malah jadi tegang dan senyumnya tidak bisa lepas.

Jika anda melakukan pemotretan di outdoor akan semakin mudah membuat anak-anak rileks. Biarkah mereka bercanda dan bermain sebelum pemotretan.  Jangan paksa mereka tersenyum dan kalau bisa potretlah saat mereka bermain-main.

Jika berada di indoor maka anda bisa mengajaknya bercanda atau memberikan mereka mainan.

7. Turutilah untuk yang tidak mau pose tertentu

Saat difoto kita kerap memiliki pose yang tidak ingin kita lakukan bukan? Bisa jadi karena pose itu membuat terlihat gemuk atau tidak cantik, dsb. Sebagai fotografer, hargailah itu. Anda malah harus bisa mengatasi kekurangan itu di depan kamera.

Ini beberapa tips yang bisa membantu untuk mengatur pose:

  • Jangan pakai lensa wide untuk memotret orang bertubuh lebar
  • Potretlah agak di atas untuk yang punya dagu dobel, kurangi fokus di area tersebut
  • Jika ada pasangan dengan perbedaan berat badan drastis, misalnya yang pria lebih tinggi, maka buat kakinya lebih lebar saat berdiri. Itu akan membuatnya terlihat lebih pendek sedikit.
  • Untuk orang-orang yang parno kelihatan gemuk di kamera bisa anda posisikan tiduran di rumput bersama anak-anak. Sembunyikan perut, angkat dagu dan dekatkan anak-anak yang ukuran tubuhnya sama.

8. Pencahayaan adalah kunci, refleksikan pada mata mereka

Hal krusial yang harus ada untuk memotret manusia adalah merefleksikan cahaya pada mata mereka. Ada banyak cara untuk melakukannya, berikut beberapa tipsnya:

  • Pilihlah waktu yang tepat. Idealnya menjelang malam, sekitar satu jam sebelum senja, waktu paling cocok untuk pemotretan portrait. Karena matahari berada di posisi rendah sehingga cahayanya tidak sekeras tengah hari. Malah cahaya menjelang senja itu akan sedikit menyebar jika ada kabut di horizon.
  • Jika tidak bisa memotret saat senja, manfaatkanlah bayangan. Anda boleh kok memotret di bawah sinar matahari tapi pastikan backgroundnya jangan terlalu menyolok karena akan mengalihkan perhatian. Carilah area yang ada bayangannya atau di bawah pohon.
  • Hindari memotret saat mendung karena pencahayaannya malah kurang. Memang cahayanya lebih lembut dan redup tapi sulit untuk “dikendalikan” di kamera. Pencahayaan saat mendung akan terlalu keras di wajah dan membuat kantung mata hitam dan area mata gelap.
  • Tambahkan cahaya menggunakan reflector atau flash jika memang dibutuhkan. Ini cukup sulit jika tidak menguasainya dengan baik. Patut diingat, selama tidak ada refleksi cahaya pada mata obyek berarti cahayanya kurang.

Namun patut dicatat juga, refleksi pada mata itu juga tidak bagus jika sumber cahaya keras dan langsung dari kamera. Hasilnya akan membuat wajah flat. Hal itu sering terjadi jika menggunakan flash built-in. Paling bagus memposisikan sumber cahaya agak dari samping sekitar 30-40 derajat dari kamera.

9. Ekspresi adalah segalanya

Kalau sudah dapat pencahayaan yang oke jangan lupakan ekspresi yang difoto ya! Gunakan kemampuan komunikasimu dengan obyek yang difoto, bisa dengan melucu agar mereka tertawa, dan pastikan timing-nya tepat. Jangan sampai anda malah membuat mereka tak nyaman atau tersinggung.

Jika ada bayi atau anak kecil, pastikan anda mendapatkan perhatian mereka saat menjepret. Anda juga harus waspada karena saat anak-anak tertawa maka perhatian orang dewasa sekitarnya akan teralih pada mereka. Ingatkan mereka untuk tetap menatap ke kamera.

10. Bersenang-senanglah saat memotret

Tips terakhir, bersenang-senanglah selama pemotretan. Saat energi sudah mulai habis, anda bisa meminta mereka berpose konyol atau foto rame-rame yang heboh agar bersemangat lagi. Kalau mood kembali bagus maka foto yang dihasilkan juga bisa bagus.

SOURCE:

https://digital-photography-school.com/3-tips-for-capturing-connections-in-family-portraits/

https://digital-photography-school.com/10-tips-for-creating-great-family-portraits/

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *