5 Mitos Umum dalam Digital Fotografi

Mitos dan kesalahpahaman bisa bertahan karena ketidaktahuan kita mengenai kerumitan Complex Physics dalam dunia digital. dan bagi kita ( para fotografer ), banyak mitos fotografi digital muncul ketika mencoba untuk menarik analogi yang tidak sempurna mengenai digital fotografi.

Ada beberapa hal dalam dunia digital foto yang hanya mitos belaka dan sering juga loh memicu topik perdebatan selain debat masalah merk kamera sih hehehe..

Well, langsung aja yuk kita simak apa saja yang menjadi mitos dan fakta dalam digital fotografi :

#1 : ISO changes sensitivity

// apabila kamera mempunyai fitur ISO lebih tinggi maka semakin bagus kamera tersebut menghasilkan suatu gambar.//

Sering dengar kalimat seperti diatas gak? nah, Secara definisi ISO adalah ukuran tingkat sensifitas sensor kamera terhadap cahaya. Semakin tinggi setting ISO kita maka semakin sensitif sensor terhada cahaya.

Tidak seperti Film (roll film yang terbuat dari seluloid berisi cairan kimia yang berfungsi menangkap spektrum cahaya ). perubahan ISO pada kamera digital tidak membuat sensor lebih sensitif. Namun, sebaliknya ISO pada digital kamera tidak dapat merubah sensitivitas cahaya. teknologi kamera digital hanya memiliki satu sensitivitas yaitu sensor.

Nah, paparan gelombang cahaya yang masuk melalui lensa ditangkap oleh sensor dan diterjemahkan menjadi sebuah susunan pola warna. ISO hanyalah keuntungan dari pasca diterapkan sinyal dari sensor.

 

Ilustrasi foto di berikut ini menggunakan ISO rendah dan tinggi pada hari yang cerah.

Sensor pada kamera merupakan rangkaian elektronik yang peka cahaya. Setiap pixel pada keping sensor akan merubah intensitas cahaya yang mengenainya menjadi tegangan listrik, Tegangan dari sensor ini selanjutnya dirubah menjadi sinyal digital dan siap diproses di tingkat selanjutnya di dalam kamera hingga menghasilkan sebuah gambar.

Seiring perkembangan teknologi, beberapa produk kamera terbaru ada teknologi ” ISO VARIANT “, yang berarti sensor membaca noise pada ISO. Hal ini memungkinkan fotografer bisa memantau besarnya highlight and shadow pada tabel histogram.

Intinya : memakai ISO Tinggi bukan berarti buruk. namun teknologi baru seperti ISO invarian memberikan fotografer lebih banyak pilihan untuk memberikan rentang cahaya yang dinamis.

/ Kesimpulan :

MITOS anggapan bahwa apabila kamera mempunyai fitur ISO lebih tinggi maka semakin bagus kamera tersebut menghasilkan suatu gambar.

FAKTA-nya, Sensitivitas pada SENSOR lah yang paling penting, semakin tinggi ISO semakin banyak noise pada sebuah gambar yang dihasilkan.

Note : Untuk lebih detail journal paper tentang single sensitivity klik disini

 

 

#2: Beli Kamera Harus Mahal

// Semakin mahal kameramu, semakin bagus gambar yang bisa kamu buat.//

Anggapan bahwa Fotografi disebut sebagai hobi mahal ( hmm emang iya sih ), Atau setidaknya di butuhkan biaya yang tak sedikit untuk melakoni hobi yang satu ini seperti harga kamera dan lensa yang tak murah.

Harga dan Budget bisa saja berkorelasi

Harga dan budget adalah dua hal yang bisa saja saling berkaitan, jika kamu menginginkan kamera dengan harga tertentu, tapi budget tak mencukupi tentu repot. Saya kalau ditanya teman, bagusnya beli kamera apa? Merk apa? Hal yang saya tanyakan dulu, kamu punya uang berapa? Mau dibelanjakan sebanyak apa?

Jadi, kamu sesungguhnya bisa memotret dengan kamera jenis apapun, tentu termasuk SLR, kamera saku, bahkan kamera ponsel. Kunci untuk foto yang bagus adalah menangkap sebuah obyek secara kreatif dan imajinatif. Temukan cara pandangmu sendiri melalui lensa, tidak perduli jenis kamera apa yang kamu punya.

/ Kesimpulan :

MITOS anggapan bahwa kamera semakin mahal, gambar yang di hasilkan semakin bagus

FAKTA-nya, kunci untuk foto yang bagus adalah menangkap sebuah obyek secara kreatif dan imajinatif, semua para fotografer profesional dimulai dari amatir, kuncinya ada di kemampuan ilmu pengetahuan dan “jam terbang”. semakin banyak kamu mengasah kemampuanmu, memakai kamera apapun kamu akan dapat menghasilkan foto yang sangat bagus.

 

 

#3: Megapixel adalah Kualitas dari Kamera ?

Megapixel seolah olah menjadi anggapan kata sakti yang mampu memikat jutaan orang untuk membeli sebuah kamera. Ini adalah kebohongan yang paling populer, yaitu bahwa megapixel lebih tinggi, lebih baik.

Perlu diketahui, megapixel merupakan satuan yang menunjukkan resolusi gambar yang bisa dihasilkan oleh sebuah kamera melalui sensornya. 1 megapixel (MP) sama dengan 1.048.576 pixel, atau kamera dengan sensor 1MP bisa menghasilkan foto yang memiliki jumlah pixel sebanyak 1.048.576 buah.

Megapixel biasanya dijadikan patokan untuk menunjukkan kerapatan pada sebuah gambar, satuan resolusi sensor, dan memang nilai ini merupakan hal pertama yang disebut pada setiap spesifikasi kamera.

// Penentu kualitas gambar sebuah foto adalah Sensor//

Setiap kamera, mulai dari kamera smartphone, pocket digital, DSLR, sampai kamera medium format yang harganya bisa buat beli mobil, semuanya memiliki yang namanya sensor kamera.

Yang menentukan kualitas sebuah kamera justru ada pada sensornya. Kombinasi teknologi sensor serta besaran megapixel dan ukuran sensor yang digunakan merupakan elemen utama untuk menghasilkan kualitas gambar yang dihasilkan. Sensor dengan teknologi back-illuminated misalnya yang kini sedang populer karena mampu menangkap cahaya lebih baik sehingga memiliki performa low light yang lebih bagus.
 
Yap, kemampuan menangkap cahaya adalah kuncinya. Sebuah sensor kamera yang bagus dapat menangkap cahaya dengan baik, sehingga otomatis gambar yang dihasilkan juga semakin baik. Sensor juga memiliki ukuran, seperti APS-C, full-frame, dan medium format.

Sensor kamera tidaklah sama ukurannya. Dimulai dari sensor yang kecil pada handphone atau smartphone (tapi ada juga sensor smartphone yang memiliki ukuran mendekati atau hampir sama dengan kamera digital/kamera pocket), sensor pada kamera digital,sensor micro four third, Ukurannya juga bervariasi, ada yang 1/1.2 inchi, 1/1.7inchi, ada juga ukuran 1 inchi.

Jika Anda ingin terjun ke dunia fotografi yang serius, apakah Anda butuh ponsel dengan kamera beresolusi besar hingga lebih dari 20MP? Masih tetap tidak. Sebaiknya Anda membeli kamera mirrorless atau DSLR yang ukuran sensornya lebih besar karena kualitas gambarnya dipastikan lebih baik. Penjabaran di atas juga mengungkapkan mengapa kamera mirrorless dan DSLR tidak ada yang memiliki resolusi hingga ratusan megapixel, padahal ukuran sensornya lebih besar dari sensor kamera ponsel.
 
Perlu diingat, kamera canggih sendiri tidak akan membuat foto semakin indah. Anda juga perlu mengetahui teknik mengambil gambar agar foto semakin menarik.

/ Kesimpulan :

MITOS anggapan bahwa kamera dengan megapixel semakin besar akan semakin bagus

FAKTA-nya, penentu kualitas kamera adalah sensor kamera. Sebuah sensor kamera yang bagus dapat menangkap cahaya dengan baik, sehingga otomatis gambar yang dihasilkan juga semakin baik. Sensor juga memiliki ukuran, seperti APS-C, full-frame, dan medium format.

 

#4: Shutter Count penentu usia semua kamera

Anggapan shutter-count adalah penentu semua tipe kamera, terlepas apakah itu kamera SLR, dSLR, ataupun Mirrorless ? Jawabannya adalah Belum Tentu,

Kenapa gitu ???
kita harus mengenal dulu apa itu shutter count dan apa pengaruhnya pada kamera konvensional dan modern

// Apa itu Shutter Count?

Shutter Count (SC) merupakan jumlah berapa kali tombol shutter pada kamera ditekan atau dipencet sehingga kamera menghasilkan sebuah foto yang dihitung dari saat penggunaan kamera pertama kali sampai saat terakhir kali kamera digunakan untuk mengambil gambar.

Sederhananya, Apa yang kamu lihat adalah aktivitas kamera ketika membuat foto atau memotret. Saat kamu menekan tombol capture, dengan otomatis akan mengaktifkan mekanik yang ada di kamera tersebut, yakni mengangkat cermin dan membuka rana, sehingga cahaya yang dipantulkan oleh obyek diteruskan kedalam film atau sensor kamera, pada akhirnya gambar foto akan terbentuk. Nah, aktivitas membuka dan menutup rana ( jendela kamera ) inilah yang dihitung oleh shutter-count.

// Apakah Shutter Count bisa mementukan usia kamera ?

Inilah pokok bahasan kita, untuk beberapa tipe kamera jaman konvensional seperti SLR dan dSLR jawabannya adalah Tentu Berpengaruh, dan untuk kamera modern seperti Mirrorless Belum Tentu Berpengaruh. 

Banyak orang yang menentukan usia hidup kamera dari shutter count/shutter actuation, alias berapa kali kamera menjepret gambar. Hal ini timbul karena biasanya produsen kamera melakukan pengetesan mekanisme shutter. Contohnya ada kamera yang lolos tes 50.000 kali jepret, ada yang lebih dari 100.000 kali. Semakin canggih sebuah kamera, biasanya semakin tinggi angka tesnya. Nama tes ini biasanya disebut shutter durability.

Untuk kamera tipe konvensional seperti SLR dan dSLR masih menggunakan cermin untuk memantulkan cahaya dari lensa ke viewfinder (jendela bidik) sehingga kita akan melihat persis apa yang dilihat kamera secara optikal. Bila kita mengambil gambar, cermin tersebut akan naik dengan cepat, shutter (rana) di depan sensor gambar terbuka, dan cahaya akan mengenai sensor sehingga bisa dilakukan pengambilan gambar. Setelah itu cermin dengan cepat akan kembali ke posisi semula untuk menampilkan objek di viewfinder.

Sedangkan kamera tipe modern seperti Mirrorless seperti namanya, tidak perlu cermin. Cahaya akan melewati lensa dan langsung jatuh tepat ke sensor gambar, seperti dalam kamera kompak dan smartphone. Gambar obyek akan ditampilkan pada layar LCD atau elektronik vewfinder setelah itu baru menekan tombol shutter dan gambar/foto tersimpan.

Kamu bisa baca juga Beda Mirrorless Vs DSLR: 10 Hal Yang Harus Anda Ketahui

/ Kesimpulan :

MITOS anggapan bahwa shutter count menentukan usia semua tipe kamera apapun

FAKTA-nya,untuk kamera jenis Mirrorless tidak berpengaruh, karena tidak mempunyai cermin penutup tambahan, jadi cahata yang melewati lensa akan jatuh langsung pada sensor kamera.

Sebagian besar orang biasanya mengasosiasikan angka shutter count dengan seberapa lama kamera mampu bertahan atau bisa dikatakan usia efektif kamera, sebenarnya hal tersebut tak sepenuhnya benar dan juga tak sepenuhnya salah. karena usia kamera tergantung pada kondisi perawatan yang baik

 

#5: Lensa Telephoto adalah lensa para profesional

Beberapa para fotografer pemula akan takjub ketika melihat orang lain memakai lensa-lensa panjang putih yang sering dipakai oleh para fotografer profesional. pada kenyataannya ini adalah pandangan yang keliru. karena yang terpenting dalam fotografi adalah Kemampuan Ilmu dan Konsep fotografi

/ Fungsi Lensa Telephoto

Lensa telephoto dapat memungkinkan kamu untuk memotret objek-objek jauh dengan dengan sangat detail. Namun, jika kamu salah memilih lensa, efektivitas lensa tele menjadi terbatas. Contohnya ketika kamu sedang memotret obyek dalam momen-momen tertentu seperti pesta pernikahan, pemandangan lanskap, dan dokumentasi liputan maka lensa telephoto tidak dibutuhkan.

Dalam kondisi pencahayaan tidak ideal, lensa tele terjangkau biasanya memberi respon lambat atau gambar yang blur. Jika ingin telephoto yang yang baik, bersiaplah mengeluarkan uang 2-4 kali lipat nilai tersebut. Dengan dana sekian besar, kamu bisa mendapatkan lensa tele dengan aperture besar dan Anti Shake (peredam getar).

/ Konsep dan Kemampuan ilmu adalah yang utama

Dalam dunia fotografi, konsep foto dan kemampuan fotografi adalah yang utama. beberapa aksesoris lainnya adalah elemen pendukung untuk menghasilkan foto yang bagus, Para Professional Fotografer haruslah mengerti soal konsep foto dan mempunyai kemampuan ilmu sebelum menghasilkan karya seni fotografi, Jika kamu ingin memotret momen-momen tertentu dan keindahan pemandangan, menggunakan Lensa Telephoto justru dapat mempengaruhi efektifitas atau bahkan tidak bisa digunakan sama sekali.

Untuk beberapa kasus tersendiri seperti konsep foto potrait, berat rasanya untuk mematahkan anggapan “mending pakai lensa tele”. Benar?

Ya, lensa lensa ber-focal length panjang sudah jadi favorit foto portrait sejak lama karena selain menjaga proporsi wajah sesuai keadaan aslinya (minim distorsi), lensa tele juga memberikan bokeh yang bagus dan dirasa memberi ruang bagi subjek untuk merasa nyaman karena fotografer tidak harus berdiri dekat dengan mereka.

/ Kesimpulan :

MITOS anggapan bahwa para fotografer professional menggunakan lensa Telephoto

FAKTA-nya, adalah Para Professional Fotografer haruslah mengerti soal konsep foto dan mempunyai kemampuan ilmu sebelum menghasilkan karya seni fotografi, Jika kamu ingin memotret momen-momen tertentu dan keindahan pemandangan, menggunakan Lensa Telephoto justru dapat mempengaruhi efektifitas atau bahkan tidak bisa digunakan sama sekali.

Demikian 5 Mitos Umum yang ada di dunia fotografi, dengan kondisi sadar atau tidak, kita sering terjebak pada informasi yang keliru, hal ini bisa terjadi karena ketidaktahuan kita mengenai kerumitan Complex Physics dalam dunia digital fotografi.

Semoga artikel ini dapat membuka wawasan anda.
salam

About Hermawan

Perkenalkan, nama saya Hermawan, salah satu anggota dari keluarga Plazakamera yang bertugas di Graphic Design, saya asli arek suroboyo dan sangat tertarik di belajar lebih di dunia photography, bekerja di plazakamera tidak membuat saya merasa sebagai pekerja, melainkan sebagai bagian dari plazakamera itu sendiri, saya nyaman menjadi bagian dari keluarga plazakamera salam, dan selamat datang di plazakamera

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *